Sabtu, 05 November 2016

Tajuk Rencana

Perhatikan Kualitas Pendidikan di Tanah Air

Minggu-minggu ini orangtua mungkin disibukkan dengan berbagai urusan yang berkaitan dengan kelanjutan pendidikan. Sebagian bisa saja susah ketika menghadapi kenyataan biaya pendidikan ternyata tinggi, bisa juga ada yang terkejut karena anaknya tidak lolos akibat nilai ujian nasional tidka memenuhi standar. Hal terakhihr inilah yang barangkali cukup banyak dijumpai di masyarakat. Penerimaan siswa yang semata-mata didasarkan atas nilai ujian nasional, banyak yang disesalkan sekarang. Kontroversi tentang ujian nasional itu sudah berlangsung sejak lama dan dipandang tidak fair untuk merekrut anak didik baru. Tetapi inilah yang terjadi di Indoneisa sekarang.

Mungkin saja beberapa tempat pelaksanaan dari ujian nasional tersebut berlangsung fair dan tertib. Akan tetapi di beberapa tempat lain berlangsung tidak sesuai dengan rencana. Bebrapa rumor pernah mengatakan bahwa kunci jawaban telah bocor dan tersebar di masyarakat. Rumor yang mengatakan beberapa guru sengaja membuatkan jawaban kepada siswa, bukan saja agar siswanya mampu mendapatkan nilai tinggi, tetapi demi mendongkrak reputasi lembaganya. Cara-cara seperti ini tentu saja tidak fair dan tidak adil. Kalau misalnya hal terakhir ini terjadi, sangat mungkin anak yang suka bolos, berandalan, dan tidak pintar bisa lolos dengan nilai tinggi. Penerimaan siswa baru yang di dasarkan semata-mata atas nilai ujian nasional, sangat tidak mencerminkan keadilan. Sungguh kasihan anak-anak yang berprestasi dan belajar sungguh-sungguh bertahun-tahun ditumbangkan oleh mereka yang kebetulan mendapatkan kuncu jawaban pada saat ujian nasional berlangsung sekitar 3 hari.

Catatan ini sengaja kita ulangi lagi, semata-mata demi tercapainya rasa keadilan dalam pendidikan mumpung minggu ini para orangtua dipusingkan oleh kegiatan yang berkaitan dengan urusan sekolah. Kita sering berbicara soal ketertingalan dengan negara lain di segala bidang. Satu muara jawaban dari persoalan itu adalah kualitas penyelenggaraan pendidikan kita. Penyelenggaraan pendidikan secara formal di Indonesia memang terletak pada sekolah atau lembaga pendidikan tertinggi. Termasuk juga kursus-kursus yang ada. Tetapi kita tetap mengakui bahwa penyelenggaraan pendidikan itu juga lingkungan dan keluarga. Karena berbagai pekerjaan dan karier di Indonesia ditentukan dengan cara-cara formal seperti menunjukkan ijazah, sertifikat, nilai raport, dan sejenisnya, maka mau tidak mau kita mengingatkan lembaga formal ini untuk memperbaiki diri.

Paling dasar sekali pada masalah pendidikan adalah kejujuran dan kemudian kreativitas yang mengembangkan kemampuan nalar peserta didik. Hanya dengan kejujuran dan pengembangan nalar itulah kita akan mampu membentuk manusia yang unggul dan mandiri dna mmapu bersaing dengan pihak manapun dalam kehidupan ini. Mereka juga akan mampu menjadi filter di sengaja bidang demi kemajuan negara. Tetapi apabila kemudian pendidikan kita dihiasi dengan ketidakjujuran, bahkan dari jenjang pendidikan paling rendah, sungguh hasilnya akan merugikan di masa depan.

Pemerintah haruslah tau dan memahami fenomena ini. Terhadap pelaksanaan ujian nasional, pemerintih harus langsung turun tangan ke bawah, bertanya ke masyarakat, kepada orangtua siswa, juga ke siswa. Tanyakan bagaimana ketegasan psikologis siswa ketika harus mengikutio ujian nasional, bertanyalah kepada orangtua tentang efektivitas ujian tersebut, untuk selanjutnya ambillah langkah yang tegas ketika misalnya ditemukan ketidaadilan dalam pelaksanaan ini.

Kita semua ingin agar negara ini menjadi maju, mampu bersaing di era globalisasi dalam bidang pendidikan. Dengan demikian, tidak ada cara yang lebih baik kecuali memperikan perhatian terhadap masalah pendidikan kita di tanah air.

Jumat, 21 Oktober 2016

Tulisan Interpretatif Jurnalistik


           One Piece cetak rekor dunia penjualan kategori manga dengan pengarang tunggal. Legenda hidup yang satu ini memang luar biasa. Tak puas untuk selalu mengejutkan dunia persilatan animanga, kali ini One Piece dan sang pengarang Eiichiro Oda kembali menorehkan namanya di panggung dunia, tepatnya dalam arsip Guinness World Record. Rekor yang dipecahkan oleh One Piece dan Oda adalah “jumlah komik terbanyak yang diterbitkan oleh satu pengarang.” karena berdasarkan jumlah bulan Desember 2014, One Piece sudah dicetak lebih dari 320,866,000 kopi di seluruh dunia!
Oda memberikan komentar resmi mengenai penghargaan ini: “Terima kasih atas sertifikasi penghargaan Guinness World Record ini. Manga adalah cara yang baik untuk menghabiskan waktu, namun saat aku diberitahu kalau “berkat One Piece aku mendapat teman.” atau “Karena One Piece aku menemukan pasangan hidupku”, aku benar-benar bahagia. Kukira angka rekor ini menyiratkan bahwa jumlah orang yang sama dapat berkumpul bersama. Aku takkan melupakan para pendahuluku di dunia manga, para rekan kerja, dan para pembaca. Mulai saat ini aku akan bekerja agar tak membuat malu rekor ini.”
Tidak hanya itu One Piece juga mencetak rekor menjadi anime terbaik dan terpopuler di dunia. Secara ringkat, One piece ini mengisahkan seorang pemuda bernama Monkey D. Luffy yang bercita-cita ingin menjadi bajak laut nomor satu di dunia. Untuk meraih mimpinya tersebut, Luffy mengarungi lautan sembari mengumpulkan teman-teman baru. Bersama dengan grup kapalnya itu, Luffy mengelilingi lautan yang sangat luas dan menaklukan lawan-lawannya dan menurut saya kita bisa mengambil sisi positif dari anime one piece. Selama saya menonton anime ini, banyak sekali memberikan saya insipirasi terutama untuk sebuah hubungan. Menurut saya One Piece mengajarkan ke kita tentang suatu hubungan yang kuat kepada teman-teman kita dan terutama adalah kita jangan mudah menyerah ataupun putus asa untuk menggapai impian atau cita-cita. Perjuangan yang dilakukan oleh Luffy pun sama dan dia terus berjuang demi mewujudkan apa yang menjadi impiannya dan dia juga tak pernah melupakan atau meninggalkan teman-teman yang berada disekitarnya. Mungkin itu bisa digambarkan kepada kita selain kita berjuang, orang-orang disekitar kita juga berperan penting dalam impian atau cita-cita kita terutama untuk mendukung kita.

Jumat, 07 Oktober 2016

Kapal Siluman di Laut Nusantara

Berulang kali Daniel Kaghahing mengusap matanya yang berkaca-kaca. Mantan pelaut di Papusungan, Lembeh Selatan--sebuah pulau tepat di seberang Kota Bitung, Sulawesi Utara-- itu sedang meratapi garis hidupnya yang nahas. Ditemui pada akhir Mei 2014 lalu, pria 39 tahun ini baru sebulan keluar dari penjara.

Nasib buruknya bermula dua tahun lalu. Ketika itu Daniel memegang jabatan mentereng: kapten kapal. Bahteranya tidak sembarangan. Besarnya 319 gross tonnage dan bisa berlayar mencari ikan sampai jauh. Namanya Meriyana. Sekali melaut, Daniel bisa tak pulang sampai enam bulan.

Pada awal 2012, sebuah peristiwa mengubah garis tangan Daniel. Sepulang dari kegiatannya menangkap ikan di Laut Arafura, polisi mencarinya dengan tuduhan terlibat pemalsuan dokumen kapal. Sekembalinya ke Bitung, Meriyana memang berubah nama menjadi Yungin 05.

Daniel terkejut. Selama delapan tahun jadi nakhoda kapal, baru kali ini dia berurusan dengan penegak hukum. Rasa kagetnya bertambah ketika majelis hakim menjatuhkan hukuman 20 bulan penjara. Tak hanya itu, semua dokumen izinnya sebagai pelaut juga disita pengadilan, termasuk sertifikat ahli nautika kapal penangkap ikan (atkapin) tingkat dua. “Sejak itu saya tidak bisa melaut lagi," katanya pilu.

Ironisnya, pelanggaran seperti yang dilakoni Daniel itu dilakukan juga oleh banyak pelaut lain di Bitung. Kapten kapal yang menakhodai bahtera dengan dokumen palsu bertebaran di sana. Di atas kapal siluman itu, mereka tak lebih dari kapten boneka.
TUDINGAN bahwa sebagian besar kapal penangkap ikan di Indonesia diam-diam ternyata milik warga negara dan perusahaan asing sebenarnya sudah lama terdengar.

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang kerap melakukan riset dan advokasi di bidang ini, secara khusus mengangkat isu ini dalam peringatan Hari Nelayan Nasional pada 6 April 2014 lalu. Mereka menggelar unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, menuding pemerintah membiarkan banyak kapal siluman mencuri ikan di perairan Nusantara.

Sekretaris Jenderal Kiara, Abdul Halim, mengaku punya sederet bukti untuk mendukung tuduhan itu. “Selama ini ada kesan bahwa pelakunya justru dilindungi pemerintah," kata Halim, ketika ditemui pada Mei 2014.

Tak mengherankan kalau Halim geregetan. Kerugian Indonesia akibat penangkapan ikan tanpa izin, tak dilaporkannya hasil tangkapan ikan, dan penangkapan ikan di area yang belum diatur pengelolaannya (illegal, unreported, and unregulated fishing), mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahunnya. Pada 2001 saja, Organisasi Pangan Dunia (FAO) memperkirakan Indonesia kehilangan Rp 30 triliun per tahun dari sektor ini.

Sebuah lembaga riset lain, Fisheries Resources Laboratory, mengungkapkan angka yang lebih mencengangkan. Akibat pencurian ikan di Laut Arafura selama kurun waktu 2001-2013, negeri ini sudah merugi Rp 520 triliun. Uang sebanyak itu bisa dipakai untuk membangun lebih dari seratus jembatan antarpulau sebesar Suramadu. “Modus illegal fishing yang paling banyak terjadi adalah pemalsuan izin," tulis hasil analisis itu.

Secara tersirat, pemerintah tak menolak kesahihan data lembaga ini. Pasalnya, dokumen penelitian ini justru ditemukan Tempo di situs resmi milik Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Bagaimana pemalsuan izin kapal siluman ini bisa terjadi? Halim menunjuk lemahnya pengawasan atas proses alih kepemilikan pada kapal yang semula berbendera asing. “Semua berawal dari sana," katanya.

Merujuk pada data Kementerian Kelautan dan Perikanan, saat ini terdapat sedikitnya 550 ribu kapal yang mengantongi surat izin penangkapan ikan (SIPI) dan surat izin kapal pengangkut ikan (SIKPI). Dari jumlah itu, 1.200 adalah eks bahtera berbendera asing.

Kapal-kapal asing itu berubah kepemilikan seiring dengan pemberlakuan Undang-Undang Perikanan Nomor 45 Tahun 2009, yang melarang sepenuhnya
Kapal asing
menangkap ikan di laut Nusantara. Kini kapal-kapal raksasa itu tercatat sebagai milik orang atau perusahaan Indonesia.

Masalahnya, banyak yang yakin ada permainan di bawah meja. Para pemilik lama kapal asing itu sebenarnya masih menguasai asetnya dengan menyiasati perizinan.

Rokhmin Dahuri, Menteri Kelautan dan Perikanan di era Presiden Megawati Soekarnoputri, termasuk yang mempercayai hal itu. “Namanya kapal pinjam bendera (flag of convenience). Kapal semacam itu semi-legal: secara de jure resmi milik pengusaha Indonesia, tapi de facto milik asing," katanya ketika ditemui pada pertengahan Mei 2014.

Mantan Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Perikanan Aji Soelarso sependapat. Dihubungi terpisah, dia mengungkapkan bahwa peralihan kepemilikan kapal asing ke pengusaha Indonesia itu menggunakan modus transaksi palsu. “Akibatnya, sekarang banyak kapal abal-abal," katanya pada awal Juni 2014 lalu.

Kedua mantan pejabat ini menegaskan bahwa praktek kapal siluman merupakan modus terbaru penangkapan ikan ilegal. "Dengan bendera Indonesia, kapal-kapal asing ini leluasa menangkap ikan di luar wilayah yang menjadi haknya," kata Rokhmin dengan nada geram.

Mari kembali pada kisah Daniel Kaghahing. Pada medio 2011, Meriyana--kapal yang dinakhodai Daniel--berangkat dari Pelabuhan Bitung. Mereka berencana melaut selama enam bulan di Laut Arafura.

Baru dua bulan beroperasi di perairan kaya ikan itu, sebuah panggilan masuk ke telepon satelit yang terpasang di Meriyana. Seorang pegawai PT Karya Bitung Sejati--perusahaan pemilik Meriyana--meminta Daniel segera merapat ke Pelabuhan Pomako, Timika, Papua. “Saya diminta mengambil dokumen surat izin penangkapan ikan yang sudah diperpanjang," katanya kepada Tempo, akhir Mei 2014 lalu.

Sampai di Timika beberapa hari kemudian, Daniel sempat kebingungan karena tak ada orang Karya Bitung Sejati di sana. Dia malah ditemui seseorang bernama Warsono, yang mengaku sebagai bos PT Yungin Prima Sentosa.

“Dia memerintahkan lambung kapal saya dicat ulang dan diberi nama baru: Yungin 05," kata Daniel mengenang. Pada dokumen surat izin penangkapan ikan pun, nama kapal Daniel sudah berubah. Tak ada lagi Meriyana.

Daniel mengikuti perintah Warsono, karena dia tahu persis Karya Bitung Sejati bukanlah pemilik asli Meriyana. Apalagi Warsono memberi jaminan bahwa manajemen Karya Bitung sudah menyetujui perubahan itu. “Pemilik Meriyana itu orang Taiwan. Namanya Agi," kata Daniel. Dia menduga Warsono adalah orang suruhan Agi.

Setelah pengecatan ulang rampung, Meriyana alias Yungin 05 melaut lagi. Meski sempat waswas karena berlayar dengan dokumen palsu, Daniel memutuskan jalan terus. “Soalnya, pengelola Pelabuhan Pomako menerbitkan surat persetujuan berlayar untuk Yungin 05. Kalau ada masalah, seharusnya surat itu tidak keluar," katanya yakin.

Jumat, 30 September 2016

Feature Jurnalistik



Anak Malang Yang Mengalami Penyakit Aneh Tapi Tetap Semangat Sekolah

            Ini kisah bocah bernama Song Liuchen umur 8 tahun dari kota Shangqiu, provinsi Henan, China menderita epidermolisis bulosa (EB) sejak lahir. Epidermis bulosa yang dia derita membuat kulitnya melepuh dan rapuh, layaknya kulit habis terbakar, namun penyakit tersebut ternyata tidak mematahkan semangatnya dalam bersekolah. Penyakit ini diperkirakan terjadi pada 1 dari 10.000-100.000 anak. Liuchen telah bertahan dan berjuang dari penyakitnya hingga usia 8 tahun. Saat ia lahir, orang tua Liuchen diberitahu dokter bahwa anak mereka tidak akan hidup lama. Spesialis di rumah sakit Zhengzhou, tempat Liuchen lahir, mengatakan jika kondisinya sangat langka, bahkan pihak rumah sakit tidak mengerti cara mengobatinya.
 
            Ketika Liunchen lahir, dia menangis selama 12 jam non-stop saat disentuh. Para ahli medis juga mengungkapkan bahwa banyak bayi yang meninggal setelah mengalami infeksi dan pernapasan. Terik panas matahari membuat kulit Liuchen serasa makin panas dan terbakar. Kulit memerah dan semakin rapuh serta terdapat lepuhan di hampir seluruh kulitnya. Tak hanya itu, sang ibu harus mengganti sprei sesering mungkin karena luka pada kulit Liuchen yang mengeluarkan darah dan cairan-cairan. Parahnya lagi, jari-jari tangan Liuchen sedikit menyatu karena penyakit langka tersebut. Kuku di jarinya juga bahkan sudah lepas. Karena itu, musim dingin adalah musim yang bersahabat dengan penyakit yang dialami Liuchen. Dan ketika musim dingin tiba, kulit Liuchen seakan keriput layaknya kulit orang tua.
            Penyakit langka ini sulit untuk mendapatkan obat penyembuhnya. Kedua orang tuanya, Zhongmin (43) dan Wang Xiaying (39) sudah mengeluarkan biaya besar untuk membeli obat untuk penyakit anaknya. Namun, penyakit langka tersebut tak kunjung sembuh. Dan pengobatan yang dilakukan pun hanya untuk mengatasi gejala seperti menghilangkan nyeri, mencegah luka serta gejala lainnya. Ayah Liuchen, Zhongmin (43) dan ibunya Wang Xiaying (39) mengatakan, jika keberanian dan ketangguhan anak mereka untuk bertahan dari penyakitnya, mendorong mereka untuk tetap optimis. Kondisi tubuhnya yang rapuh, tidak menyurutkan semangat Liuchen untuk tetap sekolah. Liuchen bahkan menjadi salah satu siswa terbaik di kelasnya.
            Dengan pengalaman Liunchen kita bisa mengerti dan belajar bahwa ternyata keterbatasan ataupun sebuah penyakit yang mengerikan tidak bisa mematahkan semangat seseorang. Dengan adanya keberanian dan ketangguhan yang dimilikinya seharusnya kita tidak mengeluh atau bersungut-sungut dalam menjalani hidup atau bersekolah. Karena di luar sana masih banyak yang lebih kurang beruntung dari kita tetapi dengan adanya semangat dan perjuangan kita bisa terus yakin dan optimis serta menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa bahwa semua itu akan indah pada waktu-Nya, karena Tuhan sudah mempunyai rencana dan masa depan yang indah bagi kita semua yang percaya kepada-Nya.

Kamis, 22 September 2016

Penyelenggaraan Akreditasi di Sekolah Bintang Timur

Pada tanggal 21-22 September 2016 SD Bintang Timur mengadakan akreditasi. Untuk menghadapi akreditasi tersebut maka SD Bintang Timur harus mempersiapkan minimal 8 standar yang dibutuhkan yaitu standar isi, standar proses, standar pengelolaan, standar kompetensi kelulusan, standar pendidikan dan tenaga pendidikan, standar sarana dan prasarana, standar pembiayaan dan standar penilaian.
Pada hari pertama, Tim Assessor memeriksa semua kelengkapan data yang ada di SD Bintang Timur mulai dari standar 1 sampai 8. Kelengkapan data tersebut juga harus dapat dibuktikan dengan bukti fisiknya dan pada hari pertama juga Tim Assessor dapat menyelesaikan tugasnya untuk memeriksa kedelapan standar tersebut.
Pada hari kedua, Tim Assessor melakukan pemantauan proses belajar mengajar di setiap kelas di SD Bintang Timur. Tim Assessor menilai setiap guru yang melakukan microteaching. Akhinrya, pelaksanaan akreditasi pun dapat selesai dan dewan guru dan kepala sekolah di Bintang Timur mengadakan acara penutupan.
Namun ada beberapa kendala yang dihadapi pada saat akreditasi yaitu kurangnya kelengkapan dokumen yang dibutuhkan seperti pengarsipan surat-surat undangan 3 tahun lalu yang dokumennya terkadang sudah tidak ada lagi, tapi berkat kerjasama semua tim dewan guru dengan pihak sekolah, pelaksanaan akreditasi pun dapat berjalan dengan lancer. Pihak SD Bintang Timur berharap kiranya mendapat hasil yang baik.