Perhatikan
Kualitas Pendidikan di Tanah Air
Minggu-minggu ini
orangtua mungkin disibukkan dengan berbagai urusan yang berkaitan dengan
kelanjutan pendidikan. Sebagian bisa saja susah ketika menghadapi kenyataan
biaya pendidikan ternyata tinggi, bisa juga ada yang terkejut karena anaknya
tidak lolos akibat nilai ujian nasional tidka memenuhi standar. Hal terakhihr
inilah yang barangkali cukup banyak dijumpai di masyarakat. Penerimaan siswa
yang semata-mata didasarkan atas nilai ujian nasional, banyak yang disesalkan
sekarang. Kontroversi tentang ujian nasional itu sudah berlangsung sejak lama
dan dipandang tidak fair untuk merekrut anak didik baru. Tetapi inilah yang
terjadi di Indoneisa sekarang.
Mungkin saja beberapa
tempat pelaksanaan dari ujian nasional tersebut berlangsung fair dan tertib.
Akan tetapi di beberapa tempat lain berlangsung tidak sesuai dengan rencana.
Bebrapa rumor pernah mengatakan bahwa kunci jawaban telah bocor dan tersebar di
masyarakat. Rumor yang mengatakan beberapa guru sengaja membuatkan jawaban
kepada siswa, bukan saja agar siswanya mampu mendapatkan nilai tinggi, tetapi
demi mendongkrak reputasi lembaganya. Cara-cara seperti ini tentu saja tidak
fair dan tidak adil. Kalau misalnya hal terakhir ini terjadi, sangat mungkin
anak yang suka bolos, berandalan, dan tidak pintar bisa lolos dengan nilai
tinggi. Penerimaan siswa baru yang di dasarkan semata-mata atas nilai ujian
nasional, sangat tidak mencerminkan keadilan. Sungguh kasihan anak-anak yang
berprestasi dan belajar sungguh-sungguh bertahun-tahun ditumbangkan oleh mereka
yang kebetulan mendapatkan kuncu jawaban pada saat ujian nasional berlangsung
sekitar 3 hari.
Catatan ini sengaja
kita ulangi lagi, semata-mata demi tercapainya rasa keadilan dalam pendidikan
mumpung minggu ini para orangtua dipusingkan oleh kegiatan yang berkaitan
dengan urusan sekolah. Kita sering berbicara soal ketertingalan dengan negara
lain di segala bidang. Satu muara jawaban dari persoalan itu adalah kualitas
penyelenggaraan pendidikan kita. Penyelenggaraan pendidikan secara formal di
Indonesia memang terletak pada sekolah atau lembaga pendidikan tertinggi.
Termasuk juga kursus-kursus yang ada. Tetapi kita tetap mengakui bahwa
penyelenggaraan pendidikan itu juga lingkungan dan keluarga. Karena berbagai pekerjaan
dan karier di Indonesia ditentukan dengan cara-cara formal seperti menunjukkan
ijazah, sertifikat, nilai raport, dan sejenisnya, maka mau tidak mau kita
mengingatkan lembaga formal ini untuk memperbaiki diri.
Paling dasar sekali
pada masalah pendidikan adalah kejujuran dan kemudian kreativitas yang
mengembangkan kemampuan nalar peserta didik. Hanya dengan kejujuran dan
pengembangan nalar itulah kita akan mampu membentuk manusia yang unggul dan
mandiri dna mmapu bersaing dengan pihak manapun dalam kehidupan ini. Mereka
juga akan mampu menjadi filter di sengaja bidang demi kemajuan negara. Tetapi
apabila kemudian pendidikan kita dihiasi dengan ketidakjujuran, bahkan dari
jenjang pendidikan paling rendah, sungguh hasilnya akan merugikan di masa depan.
Pemerintah haruslah
tau dan memahami fenomena ini. Terhadap pelaksanaan ujian nasional, pemerintih
harus langsung turun tangan ke bawah, bertanya ke masyarakat, kepada orangtua
siswa, juga ke siswa. Tanyakan bagaimana ketegasan psikologis siswa ketika harus
mengikutio ujian nasional, bertanyalah kepada orangtua tentang efektivitas
ujian tersebut, untuk selanjutnya ambillah langkah yang tegas ketika misalnya
ditemukan ketidaadilan dalam pelaksanaan ini.
Kita semua ingin agar
negara ini menjadi maju, mampu bersaing di era globalisasi dalam bidang
pendidikan. Dengan demikian, tidak ada cara yang lebih baik kecuali memperikan
perhatian terhadap masalah pendidikan kita di tanah air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar