Jumat, 30 September 2016

Feature Jurnalistik



Anak Malang Yang Mengalami Penyakit Aneh Tapi Tetap Semangat Sekolah

            Ini kisah bocah bernama Song Liuchen umur 8 tahun dari kota Shangqiu, provinsi Henan, China menderita epidermolisis bulosa (EB) sejak lahir. Epidermis bulosa yang dia derita membuat kulitnya melepuh dan rapuh, layaknya kulit habis terbakar, namun penyakit tersebut ternyata tidak mematahkan semangatnya dalam bersekolah. Penyakit ini diperkirakan terjadi pada 1 dari 10.000-100.000 anak. Liuchen telah bertahan dan berjuang dari penyakitnya hingga usia 8 tahun. Saat ia lahir, orang tua Liuchen diberitahu dokter bahwa anak mereka tidak akan hidup lama. Spesialis di rumah sakit Zhengzhou, tempat Liuchen lahir, mengatakan jika kondisinya sangat langka, bahkan pihak rumah sakit tidak mengerti cara mengobatinya.
 
            Ketika Liunchen lahir, dia menangis selama 12 jam non-stop saat disentuh. Para ahli medis juga mengungkapkan bahwa banyak bayi yang meninggal setelah mengalami infeksi dan pernapasan. Terik panas matahari membuat kulit Liuchen serasa makin panas dan terbakar. Kulit memerah dan semakin rapuh serta terdapat lepuhan di hampir seluruh kulitnya. Tak hanya itu, sang ibu harus mengganti sprei sesering mungkin karena luka pada kulit Liuchen yang mengeluarkan darah dan cairan-cairan. Parahnya lagi, jari-jari tangan Liuchen sedikit menyatu karena penyakit langka tersebut. Kuku di jarinya juga bahkan sudah lepas. Karena itu, musim dingin adalah musim yang bersahabat dengan penyakit yang dialami Liuchen. Dan ketika musim dingin tiba, kulit Liuchen seakan keriput layaknya kulit orang tua.
            Penyakit langka ini sulit untuk mendapatkan obat penyembuhnya. Kedua orang tuanya, Zhongmin (43) dan Wang Xiaying (39) sudah mengeluarkan biaya besar untuk membeli obat untuk penyakit anaknya. Namun, penyakit langka tersebut tak kunjung sembuh. Dan pengobatan yang dilakukan pun hanya untuk mengatasi gejala seperti menghilangkan nyeri, mencegah luka serta gejala lainnya. Ayah Liuchen, Zhongmin (43) dan ibunya Wang Xiaying (39) mengatakan, jika keberanian dan ketangguhan anak mereka untuk bertahan dari penyakitnya, mendorong mereka untuk tetap optimis. Kondisi tubuhnya yang rapuh, tidak menyurutkan semangat Liuchen untuk tetap sekolah. Liuchen bahkan menjadi salah satu siswa terbaik di kelasnya.
            Dengan pengalaman Liunchen kita bisa mengerti dan belajar bahwa ternyata keterbatasan ataupun sebuah penyakit yang mengerikan tidak bisa mematahkan semangat seseorang. Dengan adanya keberanian dan ketangguhan yang dimilikinya seharusnya kita tidak mengeluh atau bersungut-sungut dalam menjalani hidup atau bersekolah. Karena di luar sana masih banyak yang lebih kurang beruntung dari kita tetapi dengan adanya semangat dan perjuangan kita bisa terus yakin dan optimis serta menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa bahwa semua itu akan indah pada waktu-Nya, karena Tuhan sudah mempunyai rencana dan masa depan yang indah bagi kita semua yang percaya kepada-Nya.

7 komentar:

  1. Fotonya kurang
    Tolong ditambahkan lain waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk itu sebagai tanda aja satu foto nic karen bikin feature buat tugas yang gua lihat contohnya rata-rata satu foto

      Hapus
  2. Judulnya ambigu pas pertama kali baca, kirain anak Malang, ternyata anak malang.

    BalasHapus
  3. Judulnya ambigu pas pertama kali baca, kirain anak Malang, ternyata anak malang.

    BalasHapus