Pengertian
Individu, Keluarga dan Masyarakat
1.
Individu
Individu merupakan unit terkecil pembentuk masyarakat. Dalam
ilmu sosial, individu berarti juga bagian terkecil dari kelompok masyarakat
yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Sebagai contoh,
suatu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ayah merupakan individu dalam
kelompok sosial tersebut, yang sudah tidak dapat dibagi lagi ke dalam satuan
yang lebih kecil.
Individu berasal dari kata yunani yaitu “individium” yang
artinya “tidak terbagi”. Dalam ilmu sosial paham individu, menyangkut tabiat
dengan kehidupan dan jiwa yang majemuk, memegang peranan dalam pergaulan hidup
manusia. Individu merupakan kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia
perseorangan bukan sebagai manusia keseluruhan. Maka dapat disimpulkan bahwa
individu adalah manusia yang memiliki peranan khas atau spesifik dalam
kepribadiannya. Dan terdapat tiga aspek dalam individu yaitu aspek organik
jasmaniah, aspek psikis rohaniah, dan aspek sosial. Dimana aspek aspek tersebut
saling berhubungan. Apabila salah satu rusak maka akan merusak aspek lainnya.
Apabila pola tingkah lakunya hampir identik dengan tingkah laku massa yang
bersangkutan. Proses yang meningkatakan ciri-ciri individualitas pada seseorang
sampai pada dirinya sendiri, disebut proses individualisasi atau aktualisasi
diri. Dalam proses ini maka individu terbebani berbagai peranan yang berasal
dari kondisi kebersamaan hidup, yang akhirnya muncul suatu kelompok yang akan
menentukan kemantapan satu masayarakat. Individu dalam tingkah laku menurut
pola pribadinya ada tiga kemungkinan: pertama menyimpang dari norma kolektif
kehilangan individualitasnya. Kedua takluk terhadap kolektif, dan ketiga
mempengaruhi masyarakat. (Hartomo, 2004: 64). Dengan demikian manusia merupakan
mahluk individual tidak hanya dalam arti keseluruhan jiwa-raga, tetapi
merupakan pribadi yang khas, menurut corak kepribadiannya dan kecakapannya.
Pengertian Individu Menurut Para Ahli
1. Menurut Viniagustia
Merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyataan
suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas.
2. Menurut Marthen Luter
Individu berasal dari kata individum (Latin), yaitu satuan
kecil yang tidak dapat dibagi lagi. Individu menurut konsep Sosiologis berarti
manusia yang hidup berdiri sendiri. Individu sebagai mahkluk ciptaan tuhan di
dalam dirinya selalu dilengkapi oleh kelengkapan hidup yang meliputi raga,
rasa, rasio, dan rukun.
Raga, merupakan bentuk jasad manusia yang khas yang dapat
membedakan antara individu yang satu dengan yang lain, sekalipun dengan hakikat
yang sama.
Rasa, merupakan perasaan manusia yang dapat menangkap objek
gerakan dari benda-benda isi alam semesta atau perasaan yang menyangkut dengan
keindahan
Rasio atau akal pikiran, merupakan kelengkapan manusia untuk
mengembangkan diri, mengatasi segala sesuatu yang diperlukan dalam diri tiap
manusia dan merupakan alat untuk mencerna apa yang diterima oleh panca indera.
Rukun atau pergaulan hidup, merupakan bentuk sosialisasi
dengan manusia dan hidup berdampingan satu sama lain secara harmonis, damai dan
saling melengkapi. Rukun inilah yang dapat membantu manusia untuk membentuk
suatu kelompok sosial yang sering disebut masyarakat
3. pengertian individu adalah orang seorang; pribadi orang
(terpisah dari orang lain). organisme yang hidupnya berdiri sendiri, secara
fisiologi bersifat bebas (tidak mempunyai hubungan organik dengan sesamanya).
Sumber: Eko Sujatmiko, Kamus IPS , Surakarta: Aksara Sinergi
Media Cetakan I, 2014 halaman 114
Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri yang
berbeda. Individu yang saling bergabung akan membentuk kelompok atau
masyarakat. Individu tersebut akan memiliki karakteristik yang sama dengan
kelompok dimana dirinya bergabung.
Setiap individu mempunyai ciri khas yang berbeda dengan
individu lainnya, seperti bentuk fisik, kecerdasan, bakat, keinginan, perasaan
dan memiliki tingkat pemahaman/arti tersendiri terhadap suatu objek. Jadi
individu adalah kondisi internal dari seorang manusia yang berfungsi sebagai
subjek. Manusia selaku individu mempunyai 3 naluri, yaitu:
1. Naluri mempertahankan kelangsungan hidup
Naluri mempertahankan kelangsungan hidup telah menimbulkan
berbagai kebutuhan. Salah satu kebutuhan yang paling mendasar adalah kebutuhan
fisiologis yang terdiri dari makan, minum dan perlindungan. Semua kebutuhan
tersebut didapat dari lingkungan dimana manusia tinggal, dan dalam memanfaatkan
lingkungan tersebut membutuhkan teknologi. Teknologi dapat diartikan sebagai
cara-cara/alat yang dipergunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Jadi teknologi tidak hanya mencakup perlatan modern/mesin saja. Panah unutk
berburu, bertani berpindah-pindah dan alat/cara sederhana lain termasuk ke
dalam teknologi. Kebutuhan manusia sangat beragam dan kebutuhan ini lebih mudah
dipenuhi kalau individu hidup berkelompok dengan individu lainnya.
2. Naluri untuk mempertahankan kelanjutan penghidupan
keturunan
Naluri untuk mempertahankan keturunan, menuntut adanya
kebutuhan akan rasa aman (safety need) baik dari gangguan cuaca yang tidak
nyaman, binatang liar/manusia lain. Pakaian yang dibuat dari berbagai jenis
bahan dan model disesuaikan dengan kondisi cuaca. Perumahan dengan
bermacam-macam bahan dan juga bentuk, pada dasarnya adalah usaha untuk
memperoleh rasa aman dari berbagai gangguan. Adapun keanekaragaman bahan dan
model yang dipergunakan sangat tergantung pada lingkungan. Seperti rumah di
daerah tropis umumya dibuat dari kayu/bamboo dengan model atap segitiga/kerucut
dan sering kali dibawahnya tidak langsung menyentuh tanah, tapi
bertonggak/berkolong. Di iklim sedang rumah banyak dibangun dari bata/tanah,
atapnya rata/datar, sedangkan di daerah dingin orang Eskimo membuat rumah dari
es dengan bentuknya yang bukat saja. Semua itu tergantung pada cuaca dan bahan
mentah yang ada di lingkungannya. Perkawinan selain untuk memenuhi kebutuhan
biologis manusia, juga merupakan cerminan dari adanya ketergantungan individu
terhadap individu lain dan adanya naluri untuk meneruskan keturunan.
3. Naluri ingin tahu dan mencari kepuasan
Setiap manusia mempunyai naluri untuk ingin tahu tentang
sesuatu yang ada di sekitarnya, baik itu lingkungan alam maupun lingkungan
manusia lainnya. Adanya perbedaan alam seperti daratan, perbukitan, pegunungan;
perbedaan penyebaran tumbuhan dan hewan; perbedaan fisik manusia seperti ada
yang berkulit hitam, putih, sawo matang, berbadan jangkung, pendek dan
sebagainya; perbedaan budaya manusia seperti dalam hal cara makan ada yang
makan pakai tangan, sendok, sendok garpu dan pisau; perbedaan dalam berpakaian,
mata pencaharian, bentuk rumah dan sebagainya. Semua itu telah mendorong
manusia untuk mencari tahu. Pertanyaan ”apa, mengapa, bagaimana dan siapa”
telah melahirkan sistem pengetahuan, yang kemudian disusun menjadi sistematis
melalui aturan-aturan tertentu sehingga melahirkan ilmu pengetahuan. Ilmu
pengetahuan ini pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan spiritual/batin
manusia. Sedangkan penerapan ilmu dalam bentuk cara dan alat untuk memenuhi kebutuhan
hidup manusia disebut teknologi. Jadi teknologi adalah berbagai cara/alat untuk
memenuhi kebutuhan material manusia.
Manusia Selaku Individu
Individu adalah seseorang/seorang manusia secara utuh. Utuh
di sini diartikan sebagai suatu sifat yang tidak dapat dibagi-bagi. Merupakan
satu kesatuan antara jasmaniah dan rohaniah yang melekat pada diri seseorang.
Keduanya tidak dapat dipisahkan untuk menunjang dan memenuhi
kebutuhan manusia baik selaku individu maupun masyarakat. Ilmu pengetahuan dan
teknologi yang dimiliki individu tidak seluruhnya hasil dari pengalaman
sendiri, tetapi lebih banyak dari belajar dan meniru orang lain. Karena itu
dalam memenuhi nalri ingin tahu dan mencari kepuasanpun tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan kelompok.
Manusia Selaku Makhluk Sosial
Manusia adalah makhluk yang tidak dapat dengan segera
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada masa bayi sepenuhnya manusia
tergantung kepada individu lain. Ia belajar berjalan, belajar makan, belajar
berpakaian, belajar membaca, belajar membuat sesuatu dan sebagainya, memerlukan
bantuan orang lain yang lebih dewasa.
Menurut Malinowski(1949), salah satu tokoh ilmu Antropologi
dari Polandia menyatakan bahwa ketergantungan individu terhadap individu lain
dalam kelompoknya dapat terlihat dari usaha-usaha manusia dalam memenuhi
kebutuhan biologis dan kebutuhan sosialnya yang dilakukan melalui perantaraan
kebudayaan.
Rasa aman secara khusus tergantung kepada adanya system
perlindungan dalam rumah, pakaian dan peralatan. Perlindungan secara umum,
dalam pengertian gangguan/kelompok lain akan lebih mudah diwujudkan kalau
manusia berkelompok. Untuk menghasilkan keamanan dan kenyamanan hidup
berkelompok ini, diciptakan aturan-aturan dan kontrol-kontrol social tentang
apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan oleh setiap anggota kelompok.
Selain itu ditentukan pula siapa yang berhak mengatur kehidupan kelompok untuk
tercapainya tujuan bersama.
Individu mempunyai ciri-ciri memiliki suatu pikiran dan
diri. Dimana individu sanggup menetapkan kenyataan, interprestasi situasi,
menetapkan aksi dari luar dan dalam dirinya. Dapat diartikan sebagai proses
komunikasi individu dalam berinteraksi dan berhubungan. Individu tidak akan
jelas identitasnya tanpa adanya suatu masyarakat yang menjadi latar individu
tersebut ditandai dengan dimana individu tersebut berusaha menempatkan prilaku
pada dirinya sesuai dengan norma dan kebudayaan lingkungan tersebut , seperti
di indonesia individunya menjunjung tinggi prilaku sopan santun, dan beretika
dalam bersosialisasi.
Individu selalu berada didalam kelompok, peranan kelompok
tersebut adalah untuk mematangkan individu tersebut menjadi seorang pribadi.
Dimana prosesnya tergantung terhadap kelompok dan lingkungan dapat menjadi
faktor pendukung proses juga dapat menjadi penghambat proses menjadi suatu
pribadi. Faktor pendukung dan faktor penghambat juga dapat berdasarkan individu
itu sendiri.
Pengertian Individu dengan Masyarakat
Dalam pengertian sosiologi, Individu adalah subyek yang
melakukan sesuatu, subyek yang empunyai pikiran, subyek yang mempunyai
kehendak, subyek yang mempunyai kebebasan, subyek yang memberi arti meaning
pada sesuatu, yang mampu menilai tindakan dan hasil tindakannya sendiri.
Singkatnya individu adalah subyek yang bertindak. Sedangkan menurut Peter L.
Berger mendifinisikan masyarakat sebagai berikut: Masyarakat merupakan suatu
keseluruhan komplek hubungan manusia yang luas sifatnya. Ketika anda sedang
surplus uang dan kebetulan melewati perempatan jalan yang dihuni para pengemis,
apa yang anda lakukan? Inilah penjabaran dari relasi individu dan masyarakat.
Individu tidak akan bias melepas diri dari hal seputar masyarakat. Sebebas
apapun manusia berbuat, akan terkoneksi dengan sistem masyarakat yang berlaku.
Bahkan, dinegara Paman Sam sekalipun, Amerika Serikat, yang menganut liberalism
ekstrem. Relasi Individu dan masyarakat sudah terpikir di masa lampau. Manusia
pada dasarnya adalah homo social yang butuh interaksi dengan lingkungan
sekitarnya. Namun, ada juga pendapat lain yang menyebut manusia homo ludens,
makhluk yang senang bermain main. Semuanya tertuju pada relasi individu dan
masyarakat. Sejatinya, individu dan masyarakat bukan dua hal yang saling
bertentangan, melainkan justru saling melengkapi. Individu merupakan organisme
tunggal atau satu kesatuan yang tidak dapat dibagi, contohnya : seekor tikus,
seekor kucing, sebatang pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang
manusia. Pengertian Individu Individu berasal dari kata latin, “individuum”
yang artinya tak terbagi. Kata individu merupakan sebutan yang dapat untuk
menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata individu bukan
berarti manusia sebagai keseluruhan yang tak dapat dibagi melainkan sebagai
kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan, demikian pendapat
Dr. A. Lysen. Individu menurut konsep Sosiologis berarti manusia yang hidup
berdiri sendiri. Individu sebagai mahkluk ciptaan Tuhan di dalam dirinya selalu
dilengkapi oleh kelengkapan hidup yang meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun.
Raga, merupakan bentuk jasad manusia yang khas yang dapat
membedakan antara individu yang satu dengan yang lain, sekalipun dengan hakikat
yang sama
Rasa, merupakan perasaan manusia yang dapat menangkap objek
gerakan dari benda-benda isi alam semesta atau perasaan yang menyangkut dengan
keindahan
Rasio atau akal pikiran, merupakan kelengkapan manusia untuk
mengembangkan diri, mengatasi segala sesuatu yang diperlukan dalam diri tiap
manusia dan merupakan alat untuk mencerna apa yang diterima oleh panca indera.
Rukun atau pergaulan hidup, merupakan bentuk sosialisasi
dengan manusia dan hidup berdampingan satu sama lain secara harmonis, damai dan
saling melengkapi. Rukun inilah yang dapat membantu manusia untuk membentuk
suatu kelompok social yang sering disebut masyarakat.
Sudah menjadi keyakinan semua orang bahwa
masing-masingindividu memiliki karakteristik kemampuan yang berbeda-beda. Ada
yangberkemampuan cepat, sedang, dan ada yang berkemampuan rendah. Dalamdunia
pendidikan juga berlaku pernyataan seperti ungkapan di atas, sebabmenurut
tinjauan psikologis setiap anak memiliki perbedaan dengan lainnya.“Tak ada dua
orang di dunia ini yang benar-benar sama dalam segala hal,sekalipun mereka
kembar”.Tidak heran bila seseorang yang menyatakan bahwa “anak kembar ituserupa
tapi tak sama”. Artinya, dalam hal-hal tertentu anak kembar memilikikesamaan
dan perbedaan. Individu disini, mempunyai pengertian yaitu suatu kesatuan
yangmasing- masing memiliki ciri khasnya , dan karena itu tidak ada dua
individu sama, satu dengan yang lainnya berbeda. Individu sebagai
manusia,merupakan orang-orang yang memiliki pribadi atau jiwa sendiri.Perbedaan
individu dapat dilihat dari dua segi, yakni: segi horizontaldan segi vertikal.
Dari segi horizontal, setiap individu berbeda denganindividu lainnya dalam
aspek mental, seperti: tingkat kecerdasan,kemampuan, minat, ingatan, emosi,
kemauan dan sebagainya. Dari segivertikal, tidak ada dua individu yang sama
dalam aspek jasmani seperti bentukukuran, kekuatan, dan daya tahan
tubuh.Perbedaan itu masing-masing mempunyai keuntungan dan kelemahan.Ada dua
faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan individu, yaitu:61). Faktor
warisan keturunanKeturunan merupakan faktor pertama yang
mempengaruhiperkembangan individu. Dalam hal ini keturunan diartikan sebagai“Totalitas
karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak,atau segala
potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki sejak masakonsepsi (masa
pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan daripihak orang tua melalui
gen-gen”.
E. Z Muttaqin, mengatakan bahwa anak harus
diberikanpendidikan sedini mungkin, bahkan sejak kedua orang tuanya memasuki
jenjang perkawinan, harus sudah mengkalkulasikan bagaimana anak-anakyang akan
mereka lahirkan nanti. Ketika suami istri bergaul sudah diawalidengan do’a agar
dengan doa itu setan tidak ikut campur (ovum atausperma) yang disimpan dalam
rahim istri bukan terdiri dari bahan –bahanjasmaniah semata, tetapi juga
terkandung benih watak dan tabiat calonanak. Makanan ibu yang mengandung
vitamin untuk anak. Demikian jugakelakuan ibu dan bapak akan menjadi vitamin
juga untuk calon anak.2) Faktor pengaruh lingkunganLingkungan adalah segala hal
yang mempengaruhi individu,Sehingga individu itu ikut terlibat atau terpengaruh
karenanya. Semenjakmasa konsepsi dan masa-masa selanjutnya, perkembangan
individudipengaruhi oleh mutu makanan yang diterimanya, temperatur
udarasekitarnya, suasana dalam lingkungan, sikap-sikap orang sekitar,hubungan
dengan sekitarnya, suasana pendidikannya (informal, formaldan informal). Dengan
kata lain, individu akan menerima pengaruh darilingkungan, memberi contoh
kepada lingkungan, mencontoh atau belajartentang berbagai hal dari lingkungan.
2.
Keluarga
Keluarga
merupakan bagian masyarakat yang fundamental bagi kehidupan pembentukan
kepribadian anak manusia. Hal ini diungkapkan Syarief Muhidin (1981:52) yang
mengemukakan bahwa : “Tidak ada satupun lembaga kemasyarakatan yang lebih
efektif di dalam membentuk keperibadian anak selain keluarga. Keluarga tidak
hanya membentuk anak secara fisik tetapi juga berpengaruh secara psikologis”.
Pendapat
diatas dapat dimungkinkan karena keluarga merupakan lingkungan pertam dan utama
bagi seorang anak manusia, di dalam keluarga seorang anak dibesarkan,
mempelajari cara-cara pergaulan yang akan dikembangkannya kelak di lingkungan
kehidupan sosial yang ada di luar keluarga. Dengan perkataan lain di dalam
keluarga seorang anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, baik kebutuhan
fisik, psikis maupun sosial, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan
baik. Disamping itu pula seorang anak memperoleh pendidikan yang berkenaan
dengan nilai-nilai maupun norma-norma yang ada dan berlaku di masyarakat
ataupun dalam keluarganya sendiri serta cara-cara untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya.
Sedangkan
istilah keluarga itu sendiri memiliki beraneka ragam pngertian, salh satunya
diungkapkan oleh Paul B Houton dan Chester L Hunt (1987:267) adalah sebagai
berikut :
·
Suatu kelompok yang
mempunyai nenek moyang yang sama
·
Suatu kelompok
kekerabatan yang disatukan oleh darah atau perkawinan
·
Pasangan perkawinan
dengan atau tanpa anak
·
Pasangan tanpa nikah
yang mempunyai anak
·
Satu orang dengan
beberapa anak.
Karena
beragam dan luasnya pengertian tentang keluarga maka penting adanya pembatasan
atau definisi keluarga. Diantaranya pendapat Burgess dan Lock yang membedakan
keluarga dengan kelompok sosial lainnya adalah sebagai berikut
Keluarga
adalah susunan orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah
atau adopsi. Pertalian antara suami dan istri adalah perkawinan dan hubungan
antara orang tua dan anak biasanya adalah darah atau kadangkala adopsi
Anggota-anggota
keluarga ditandai dengan hidup bersama dibawah satu atap dan merupakan susunan
satu rumah tangga, kadang-kadang seperti masa lampau rumah tangga adalah
keluarga luas, meliputi didalamnya empat sampai lima generasi. Sekarang rumah
tangga semakin kecil ukurannya, umunya dibatasi oleh suami istri anak atau
dengan satu anak, dua atau tiga anak.
Keluarga
merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi yang
menciptakan peranan-peranan sosial bagi si suami dan istri, ayah dan ibu, putra
dan putri, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Peranan-peranan tersebut
dibatasi oleh masyarakat, tetapi masing-masing keluarga diperkuat melalui
sentimen-sentimen yang sebagian merupakan tradisi dan sebagian lagi emosional
yang menghasilkan pengalaman.
Keluarga
adalah pemelihara suatu kebudayaan bersama yang diperoleh pada hakekatnya dari
kebudayaan umum, tetapi dalam suatu masyarakat yang kompleks masing-masing
keluarga mempunyai ciri-ciri yang berlainan dengan keluarga lain. Berbeda
kebudayaan dari setiap keluarga timbul melalui komunikasi anggota-anggota
keluarga yang merupakan gabungan dari pola-pola tingkah laku individu (dalam
Khairudin, 1985).
Pada
garis besarnya keluarga dapat dibagi kedalam dua bentuk besar yaitu keluarga
luas (extended family) dan keluarga Inti (nuclear family). Keluarga luas adalah
satuan keluarga yang meliputi lebih dari satu generasi dan satu lingkungan kaum
keluarga yang lebih luas daripada hanya ayah, ibu dan anak-anak atau dengan
perkataan lain, keluarga luas merupakan keluarga inti ditambah dengan
anggota-anggota keluarga yang lain, atau keluarga yang lebih dari satu
generasi. Sedangkan keluarga inti dapat didefinisikan dengan keluarga atau
kelompok yang terdiri dar atah, ibu dan anak-anak yang belum dewasa atau belum
menikah.
Di
Indonesia sendiri, keluarga telah diatur dalam berbagai peraturan atau
undang-undang RI nomor 10 tahun 1992 mendefinisikan keluarga sebagai berikut :
”Keluarga merupakan wahana pertama seorang anak mendapatkan pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan bagi kelangsungan hidupnya”.
Sedangkan menurut SD. Vembrianto dalam “Sosiologi Pendidikan”
mengintisarikan tentang pengertian keluarga ini yaitu :
Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri atas ayah, ibu dan anak
Hubungan sosial diantara anggota keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan atau adopsi
Hubungan antara anggota keluarga dijiwai oleh suasana efeksi dan rasa tanggung jawab
Fungsi keluarga ialah memelihara, merawat dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.
Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri atas ayah, ibu dan anak
Hubungan sosial diantara anggota keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan atau adopsi
Hubungan antara anggota keluarga dijiwai oleh suasana efeksi dan rasa tanggung jawab
Fungsi keluarga ialah memelihara, merawat dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.
Fungsi Keluarga
Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi pokok yang sulit diubah dan digantikan oleh orang atau lembaga lain tetapi karena masyarakat sekarang ini telah mengalami perubahan, tidak menutup kemungkinan sebagian dari fungsi sosial keluarga tersebut mengalami perubahan. Dalam pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga tersebut akan banyak dipengaruhi oleh ikatan-ikatan dalam keluarga, hal ini sesuai dengan yang dikatakan MI Solaeman (1978:18) bahwa : “Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi yang pokok, yaitu fungsi-fungsi yang tidak bisa dirubah dan digantikan oleh orang lain, sedangkan fungsi-fungsi lain atau fungsi-fungsi sosial relatif lebih mudah berubah atau mengalami perubahan”.
Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi pokok yang sulit diubah dan digantikan oleh orang atau lembaga lain tetapi karena masyarakat sekarang ini telah mengalami perubahan, tidak menutup kemungkinan sebagian dari fungsi sosial keluarga tersebut mengalami perubahan. Dalam pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga tersebut akan banyak dipengaruhi oleh ikatan-ikatan dalam keluarga, hal ini sesuai dengan yang dikatakan MI Solaeman (1978:18) bahwa : “Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi yang pokok, yaitu fungsi-fungsi yang tidak bisa dirubah dan digantikan oleh orang lain, sedangkan fungsi-fungsi lain atau fungsi-fungsi sosial relatif lebih mudah berubah atau mengalami perubahan”.
Mengenal fungsi keluarga Abu Ahmadi (1991:247) mengemukakan
bahwa tugas atau fungsi keluarga bukan merupakan fungsi yang tunggal tetapi
jamak. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa fungsi kelurga adalah :
Menstabilkan situasi keluarga dalam arti stabilisasi situasi ekonomi keluarga
Mendidik
Pemelihara fisik dan psikis keluarga, termasuk disini kehidupan religius.
Menstabilkan situasi keluarga dalam arti stabilisasi situasi ekonomi keluarga
Mendidik
Pemelihara fisik dan psikis keluarga, termasuk disini kehidupan religius.
Mengenai fungsi keluarga, khususnya tanggung jawab orang tua
terhadap anaknya Singgih P Gunarsa (1991:54) mengemukakan sebagai berikut :
“Tanggung jawab orang tua ialah memenuhi kebutuhan-kebutuhan si anak baik dari
sudut organis-Psikologis, antara lain makanan, maupun kebutuhan-kebutuhan
psikis seperti kebutuhan-kebutuhan akan perkembangan, kebutuhan intelektual
melalui pendidikan, kebutuhan rasa dikasihi, dimengerti dan rasa aman melalui
perawatan asuhan ucapan-ucapan dan perlakuan”.
Dari konsep tersebut diterangkan bahwa diantaranya peran
orang tua ini sangat penting sekali terhadap pemenuhan kebutuhan intelektual
bagi anak melalui pendidikan.Hal ini merupakan tanggung jawab orang tua harus
diberikan kepada anaknya sehingga orang tua ditekankan harus mengerti akan
fungsi keluarga dan tentunya pemahaman tentang pendidikan. Ini harus
benar-benar dirasakan oleh orang tua sampai mampu berkeinginan untuk melanjutkan
sekolah anaknya ke yang lebih tinggi sehingga wawasan dan pemahaman anak bisa
lebih luas.
Selain dari pendapat diatas mengenai fungsi keluarga ini
menurut MI Soelaeman mengatakan sebagai berikut :
Fungsi Edukatif – Sebagai suatu unsur dari tingkat pusat
pendidikan, merupakan lingkungan pendidikan yang pertama bagi anak. Dalam
kedudukn ini, adalah suatu kewajaran apabila kehidupan keluarga sehari-hari,
pada saar-saat tertentu terjadi situasi pendidikan yang dihayati oleh anak dan
diarahkan pada perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Fungsi
Sosialisasi – Melalui interaksi dalam keluarg anak mempelajari pola-pola
tingkahlaku, sikap, keyakinan, cita-cita serta nilai-nilai dalam masyarakat
dalam rangka pengembangan kepribadiannya. Dalam rangka melaksanakan fungsi
sosialisasi ini, keluarga mempunyai kedudukan sebagai penghubung antara anak
dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial yang meliputi penerangan,
penyaringan dan penafsiran ke dalam bahasa yang dimengerti oleh anak.
Fungsi
protektif – Fungsi ini lebih menitik beratkan dan menekankan kepada rasa aman
dan terlindungi apabila anak merasa aman dan terlindungi barulah anak dapat
bebas melakukan penjajagan terhadap lingkungan.
Fungsi
Afeksional – Yang dimaksud dengan fungsi afeksi adaslah adanya hubungan sosial
yang penuh dengan kemesraan dan afeksi. Anak biasanya mempunyai kepekaan
tersendiri akan iklim-iklim emosional yang terdapat dalam keluarga kehangatan
yang terpenting bagi perkembangan keperibadian anak
Fungsi
Religius – Keluarga berkewajiban mmperkenalkan dan mengajak anak serta keluarga
pada kehidupan beragama. Sehingga melalui pengenalan ini diharapkan keluarga
dapat mendidik anak serta anggotanya menjadi manusia yang beragama sesuai
dengan keyakinan keluarga tersebut.
Fungsi
Ekonomis – Fungsi keluarga ini meliputi pencarian nafkah, perencanaan dan
pembelanjaannya. Pelaksanaanya dilakukan oleh dan untuk semua anggota keluarga,
sehingga akan menambah saling mengerti, solidaritas dan tanggung jawab bersama.
Fungsi
Rekreatif – Suasana keluarga yang tentram dan damai diperlukan guna
mengembalikan tenaga yang telah dikeluarkan dalam kehidupan sehari-hari
Fungsi
Biologis – Fungsi ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis
keluarga, diantaranya kebutuhan seksuil. Kebutuhan ini berhubungan dengan
pengembangan keturunan atau keinginan untuk mendapatkan keturunan. Selain itu
juga yang termasuk dalam fungsi biologis ini yaitu perlindungan fisik seperti
kesehatan jasmani dan kebutuhan jasmani yaitu dengan terpenuhinya kebutuhan
sandang, pangan dan papan akan mempengaruhi kepada jasmani setiap anggota
keluarga.
Dari
uraian mengenai fungsi-fungsi keluaga diatas, maka jelaslah bahwa fungsi-fungsi
ini semuanya memegang peranan penting dalam keluarga, terutama dalam
meningkatkan kesejahteraan individu yang menjadi anggota keluarganya. Untuk itu
dalam penerapannya hendaknya fungsi-fungsi tersebut berjalan secara seimbang,
karena akan membantu keharmonisan serta kehidupan keluarga. Pelaksanaan
fungsi-fungsi keluarga ini disertai dengan suasana yang baik serta fasilitas
yang memadai.
3.
Masyarakat
Pengertian Masyarakat Menurut Definisi Para Ahli| Secara umum, Pengertian masyarakat adalah sekumpulan
individu-individu yang hidup bersama. Istilah masyarakat berasal dari bahasa
Arab dengan kata "syaraka". Syaraka, yang artinya ikut
serta (berpartisipasi). Sedangkan dalam bahasa Inggris, masyarakat disebut
dengan "society" yang pengertiannya adalah interaksi
sosial, perubahan sosial, dan rasa kebersamaan. Untuk mengamati lebih luas
mengenai pengertian masyarakat, mari kita mengkaji beberapa pendapat para ahli
mengenai pengertian masyarakat. Macam-macam pengertian masyarakat menurut
definisi para ahli adalah sebagai berikut :
Pengertian Masyarakat Menurut Definisi Para Ahli
1. Emile Durkheim : Menurut
Emile Durkheim, pengertian masyarakat adalah suatu kenyataan objektif dari
individu-individu yang merupakan anggotanya.
2. Karl Marx : Menurut
Karl Marx, pengertian masyarakat adalah suatu sturktur yang mengalami
ketegangan organisasi maupun perkembangan karena adanya pertentangan antara
kelompok-kelompok yang terpecah secara ekonomi
3. M. J. Herkovits : Menurut
M. J. Herkovits, pengertian masyarakat adalah kelompok individu yang
diorganisasikan dan mengikuti suatu cara hidup tertentu.
4. J. L. Gillin dan J. P. Gillin : Menurut J. L. Gillin dan J. P. Gillin, pengertian masyarakat
adalah kelompok yang tersebar dengan perasaan persatuan yang sama
5. Max Weber : Menurut
Max weber, pengertian masyarakat adalah suatu struktur atau aksi yang pada
pokoknya ditentukan oleh harapan dan nilai-nila yang dominan pada warganya
6. Selo Soemardjan : Menurut
Selo Soemardjan, pengertian masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama
dan menghasilkan kebudayaan.
7. Paul B. Horton : Menurut
Paul B. Horton, pengertian masyarakat adlaah sekumpulan manusia yang relatif
mandiri dengan hidup bersama dalam jangka waktu cukup lama, mendiami suatu
wilayah tertentu dengan memiliki kebudayaan yang sama, dan sebagian besar
kegiatan dalam kelompok itu.
8. Soerjono Soekanto : Menurut
Soerjono Soekanto, masyarakat pada umumnya memiliki ciri-ciri antara lain
sebagai berikut...
·
Manusia yang hidup
bersama; sekurang-kurangny terdiri atas dua orang
·
Bercampur atau
bergaul dalam jangka waktu yang cukup lama. Berkumpulnya manusia akan
menimbulkan manusia baru. Sebagai akibat dari hidup bersama, timbul sistem
komunikasi dan peraturan yang mengatur hubungan antarmanusia.
·
Sadar bahwa mereka
merupakan satu kesatuan
·
Merupakan suatu
sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena
mereka merasa dirinya terkait satu sama lain.
9. Marrion Levy : Menurut
Marion Levy, Empat kriteria yang perlu dipenuhi agar suatu kelompok dapat
disebut masyarakat, adalah sebagai berikut..
·
kemampuan bertahan
yang melebihi masa hidup seorang anggotanya
·
perekrutan seluruh
atau sebagian anggotanya melalui reproduksi atau kelahiran
·
adanya sistem
tindakan utama yang bersifat swasembada
·
kesetiaan terhadap
suatu sistem tindakan utama secara bersama-sama
10. Talcon Parsons : Menurut
Talcott Parsons, menambahkan kriteria kelima dari pendapat Marion Levy yaitu
melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar