Jenis atau Macam-macam Kepariwisataan
Berdasarkan Letak Geografis , kegiatan
pariwisata berkembang
- Pariwisata lokal adalah pariwisata
setempat mempunyai ruang lingkup relatif sempit & terbatas , misal
kota bandung.
- Pariwisata regional adalah
berkembang di suatu tempat atau daerah yang lebih luas dari lokal dan
lebih sempit dari nasional , misalnya Bali & Sumatra Utara.
- Kepariwisataan nasional adalah
domestic tourism dan foreign tourism.
- Regional-International Tourism
adalah kegiatan kepariwisataan yang terbatas , tetapi melewati batas-batas
yang lebih dari dua atau tiga negara. Misalnya kepariwisataan ASEAN, Timur
Tengah , dll.
- International Tourism adalah
kegiatan kepariwisataan yang berkembang di seluruh negera di dunia
Berdasarkan pengaruh terhadap neraca
pembayaran
- In tourism adalah kegiatan
kepariwisataan yang ditandai dengan gejala masuknya wisatawan asing ke
suatu negara (memasukan devisa negara)
- Outgoing tourism adalah kegiatan
kepariwisataan yang ditandai dengan gejala keluarnya warga negara sendiri
bepergian ke luar negeri sebagai wisatawan
Berdasarkan pembagian menurut objeknya
- Cultural Tourism adalah motivasi
orang-orang yang melakukan perjalanan disebabkan karena adanya faktor daya
tarik dari seni budaya suatu tempat atau daerah.
- Recuperational Tourism adalah
orang orang yg bertujuan untuk menyembuhkan penyakit.
- Commercial Tourism adalah wisata
yang dikaitkan dengan kegiatan perdagangan nasional atau international ,
misal expo, fair, exebition.
- Sport Tourism adalah perjalanan
yang bertujuan untuk menyaksikan suatu pesta olah raga, misalnya world cup
dan olimpiade.
- Political Tourism adalah
perjalanan yang bertujuan untuk menyaksikan suatu kejadian yang
berhubungan dengan kegiatan suatu negara. Misalnya hari angkatan perang.
- Social Tourism , dilihat dari segi
penyelenggaraannya tidak menekankan untuk mencari keuntungan, misalnya
study tour.
- Regional Tourism adalah perjalanan
untuk melihat upacara-upacara keagamaan, misalnya Ngaben.
Menurut Nyoman S.
Pendit (1999: 42-48) memperinci penggolongan pariwisata menjadi beberapa jenis
yaitu :
1) Wisata Budaya Merupakan perjalanan
wisata atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan seseorang dengan
mengadakan kunjungan atau peninjauan ke tempat lain atau ke luar negeri,
mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat mereka.
2) Wisata Kesehatan Hal ini dimaksudkan
dengan perjalanan seorang wisatawan dengan tujuan untuk menukar keadaan dan
lingkungan tempat sehari-hari di mana ia tinggal demi kepentingan beristirahat
baginya dalam arti jasmani dan rohani dengan mengunjungi tempat peristirahatan
seperti mata air panas mengandung mineral yang dapat menyembuhkan, tempat yang
memiliki iklim udara menyehatkan atau tempat yang memiliki fasilitas-fasilitas kesehatan
lainnya.
3) Wisata Olah Raga Wisatawan yang
melakukan perjalanan dengan tujuan berolahraga atau. memang sengaja bermaksud
mengambil bagian aktif dalam peserta olahraga disuatu tempat atau Negara
seperti Asian Games, Olympiade, Thomas Cup, Uber Cup dan lain-lain. Bisa saja
olahraga memancing, berburu, berenang
4) Wisata Komersial Dalam jenis ini
termasuk perjalanan untuk mengunjungi pameranpameran dan pekan raya yang
bersifat komersial, seperti pameran industri, pameran dagang dan sebagainya.
5) Wisata Industri Perjalanan yang
dilakukan oleh rombongan pelajar atau mahasiswa, atau orang-orang awam ke suatu
kompleks atau daerah perindustrian dimana terdapat pabrik-pabrik atau
bengkel-bengkel besar dengan maksud tujuan untuk mengadakan peninjauan atau penelitian.
Misalnya, rombongan pelajar yang mengunjungi industri tekstil.
6) Wisata Politik Perjalanan yang
dilakukan untuk mengunjungi atau mengambil bagian aktif dalam peristiwa
kegiatan politik. Misalnya, ulang tahun 17 Agustus di Jakarta, Perayaan 10 Oktober
di Moskow, Penobatan Ratu Inggris, Perayaan Kemerdekaan, Kongres atau konvensi
politik yang disertai dengan darmawisata.
7) Wisata Konvensi Perjalanan yang
dilakukan untuk melakukan konvensi atau konferensi. Misalnya APEC, KTT non
Blok.
8) Wisata Sosial Merupakan
pengorganisasian suatu perjalanan murah serta mudah untuk memberi kesempatan
kepada golongan masyarakat ekonomi lemah untuk mengadakan perjalanan seperti
kaum buruh, pemuda, pelajar atau mahasiswa, petani dan sebagainya.
9) Wisata Pertanian Merupakan
pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyek-proyek pertanian,
perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimananwisatawan rombongan dapat
mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi maupun melihat-lihat
keliling sambil menikmati segarnya tanaman beraneka ragam warna dan suburnya
pembibitan di tempat yang dikunjunginya.
10) Wisata Maritim (Marina) atau Bahari
Wisata yang dikaitkan dengan kegiatan olah raga di air, lebih-lebih danau,
bengawan, teluk atau laut. Seperti memancing, berlayar, menyelam, berselancar,
balapan mendayung dan lainnya.
11) Wisata Cagar Alam Wisata ini
biasanya diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan
usaha-usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam,
tanaman lindung, hutan daerah pegunungan dan sebagainya.
12) Wisata Buru Wisata untuk buru,
ditempat atau hutan yang telah ditetapkan pemerintah Negara yang bersangkutan
sebagai daerah perburuan, seperti di Baluran, Jawa Timur untuk menembak babi
hutan atau banteng.
13) Wisata Pilgrim Jenis wisata ini
dikaitkan dengan agama, sejarah, adat-istiadat dan kepercayaan umat atau
kelompok dalam masyarakat Ini banyak dilakukan oleh rombongan atau perorangan
ketempat-tempat suci, ke makam-makam orang besar, bukit atau gunung yang
dianggap keramat, tempat pemakaman tokoh atau pimpinan yang dianggap legenda.
Contoh makam Bung Karno di Blitar, Makam Wali Songo, tempat ibadah seperti di
Candi Borobudur, Pura Besakih di Bali, Sendang Sono di Jawa Tengah dan
sebagainya.
14) Wisata Bulan Madu Suatu
penyelenggaraan perjalanan bagi pasangan-pasangan, pengantin baru, yang sedang
berbulan madu dengan fasilitas-fasilitas khusus dan tersendiri demi kenikmatan
perjalanan dan kunjungan mereka.
Menurut James J. Spillane (1994: 28-30)
terdapat empat pendekatan didalam pariwisata yang muncul secara kronologis
yakni :
1) Pendekatan Advocasy Pendekatan ini
mendukung pariwisata dan menekankan keuntungan ekonomis dari pariwisata.
Potensi pariwisata bisa dipakai untuk mendukung macam-macam kegiatan ekonomis,
menciptakan lapangan kerja baru, memperoleh devisa asing yang dibutuhkan bagi
pembangunan dan masih banyak lagi.
2) Pendekatan Cautionary Pendekatan ini
menekankan bahwa pariwisata banyak mengakibatkan banyak kerugian (disbenefits)
dalam berbagai aspek sosial-ekonomi: seperti menimbulkan lapangan kerja musiman
dan kasar (rendahan), mengakibatkan kebocoran devisa asing, menyebabkan
komersialisasi budaya, serta menyebabkan berbagai macam konflik.
3) Pendekatan Adaptancy Pendekatan ini
menyebutkan agar pengaruh negatif pariwisata dapat dikontrol dengan mencari
bentuk lain perkembangan pariwisata dari yang selama ini sudah dikenal secara
umum, atau dengan menyesuaikan pariwisata dengan Negara atau daerah tujuan
wisata. Cara berpikir baru ini berdasarkan pandangan bahwa alam dan budaya
dapat digabungkan dalam satu konteks
4) Pendekatan Developmental Pendekatan
Developmental atau sering disebut pendekatan Alternative ini menganggap bahwa
pariwisata dapat disesuaikan dengan keadaan masyarakat tuan rumah dan peka akan
selera masyarakat tuan rumah tersebut Dapat dipercaya bahwa perkembangan
tersebut sebetulnya mempengaruhi pilihan wisatawan terhadap daerah tujuan
wisatanya dan demikian juga kehidupan mereka didaerah tujuan wisata atau bentuk
alternative pariwisata ini mempengaruhi jurang pemisah antara hak dan kewajiban
dari tamu, tuan rumah dan perantaranya.
Keuntungan dan
Kerugian diadakan Kepariwisataan
Keuntungan :
1. Pendapatan Tetap
Pariwisata
dapat mendatangkan pendapatan tetap yang efeknya dapat berantai. Salah satunya
adalah terciptanya lapangan kerja untuk penduduk setempat. Selain itu,
masyarakat masih bisa memperoleh pendapatan melalui pengeluaran oleh wisatawan
misalnya cinderamata, makanan-minuman, penginapan, atau jasa pariwisata yang
lain. Akan tetapi perlu diingat bahwa masyarakat tidak bisa sepenuhnya
menggantungkan pendapatan mereka dari pariwisata. Pariwisata kondisinya sangat
berfluktuatif tergantung dari banyak hal diantarnya kondisi ekonomi dan faktor
keamanan serta kenyamanan. Banyak pekerjaan di sektor pariwisata juga merupakan
pekerjaan paruh waktu ataupun musiman, misalnya pemandu wisata akan ada
pekerjaan jika ada wisatawan.
2. Peningkatan
Pelayanan Untuk Masyarakat
Adanya sumber
pendapatan yang diperoleh dari kegiatan pariwisata baik di dalam maupun luar kawasan
lindung dapat memperbaiki dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Misalnya, masyarakat akan mampu mengakses pelayanan kesehatan maupun pendidikan
dengan lebih baik. Selain itu penerapan pajak ataupun insentif dapat juga
membantu proyek-proyek pembangunan di masyarakat. Pajak dapat diperoleh dari
iuran masuk kawasan ataupun konsesi penggunaan kawasan. Proyek-proyek
masyarakat dapat didanai dari kegiatan pariwisata berkelanjutan ini seperti
mendanai program sekolah yang sedang berjalan ataupun pembangunan klinik
kesehatan baru.
3. Penguatan dan
Pertukaran Budaya
Interaksi
dengan masyarakat lokal serta tradisi dan budayanya merupakan sesuatu yang
sangat berharga bagi wisatawan, inilah salah satu alasan mereka berwisata.
Begitupun sebaliknya bagi masyarakat lokal, dapat membangun rasa percaya diri
serta bangga terhadap kebudayaan mereka karena tradisi dan budayanya disukai
oleh wisatawan. Peran dan interkasi masyarakat lokal terhadap wisata dan
wisatawan merupakan nilai tambah bagi pariwisata. Namun, kesuksesan dari proses
interaktif ini tergantung kepada masyarakat lokal juga, bagaimana mereka
mengolah proses serta situasi yang ada. Kemahiran berbahasa (untuk wisatawan
asing) serta keramahan dan kehangatan sikap masyarakat lokal menjadi hal penting
untuk upaya ini.
4. Kesadaran
Masyarakat Terhadap Konservasi
Sudah menjadi
hal umum jika kita biasanya kurang mensyukuri dan manghargai lingkungan sekitar
kita. Hal ini dapat disebabkan karena tiap saat kita hidup didalamnya sehingga
kurang bisa melihat keindahan, keunikan dan nikmat yang ada. Meskipun pada
dasarnya kita dapat memahami kerumitan alam dan peran sumber daya yang ada di
sekitar kita. Ketika orang luar datang dan mengagumi lingkungan, budaya serta
tradisi kita maka akan timbul rasa bangga pada apa yang kita miliki dan
biasanya akan diikuti dengan upaya konservasi. Banyak dari kita kemudian
berusaha untuk melindungi daerah kita serta mengubah pola hidup yang dapat
merusak lingkungan, misalnya kita akan menjaga kebersihan lingkungan, mengelola
kualitas air serta mempelajari budaya dan tradisi kita.
Kerugian :
1. Rusaknya
Lingkungan
Berasal dari
jumlah dan perilaku wisatawan yang dapat mengganggu dan merusak kondisi
lingkungan setempat. Berkaitan erat dengan daya dukung lingkungan dan dapat
dikontrol dengan pemberlakuan manajemen pariwisata yang baik dengan menerapkan
batasan perubahan yang dapat diterima. Proses yang dipakai adalah adaptif
aktif. Selalu dapat melihat setiap perubahan yang terjadi dengan menetapkan
kriteria serta indikator yang disesuaikan dengan tujuan paradigma pariwisata
yang dibangun.
2. Ketidakstabilan
Ekonomi
Hal ini membuat
masyarakat rentan terhadap kondisi pariwisata yang fluktuatif. Sebagai
konsekuensinya, wisatawan dan masyarakat lokal dapat membayar harga yang lebih
tinggi untuk mendapatkan pelayanan, makanan-minuman, bahan bakar, penginapan
dll.
3. Kepadatan dan
Kenyamanan
Terlalu
banyaknya wisatawan akan mengganggu kenyamanan wisatawan itu sendiri dan juga
masyarakat yang hidup di daerah tersebut, terutama jika hal ini terjadi di
kawasan lindung.
4. Pembangunan
Berlebih
Pembangunan
pariwisata jika tidak dikontrol dengan baik dapat mengganggu kenyamanan dan
merusak lingkungan. Pembangunan dalam hal ini bisa dibedakan menjadi 2 (dua)
jenis, yaitu pembangunan yang terencana dan pembangunan yang tidak terencana.
Pembangunan terencana misalnya resort, hotel, dermaga, akses jalan dan
fasilitas pendukung wisata lainnya. Mereka sudah menempati ruang dan jumlah
tertentu. Pembangunan yang tidak terencana misalnya rumah-rumah pekerja
industri wisata. Pembangunan tidak terencana biasanya disebabkan oleh
masyakarat yang mencari pekerjaan di sektor wisata. Pembangunan ini seringkali
sewenang-wenang, tidak memperhatikan sanitasi dan kebersihan lingkungan
Sehingga kerap
muncul gubuk-gubuk kumuh dan liar di sekitar lokasi wisata.
5. Pengaturan
Dari Pihak Luar Yang Berlebihan
Meskipun hal
ini terlihat sebagai penilaian subjektif tapi hal ini juga telah menjadi pusat
perhatian para pemerhati kegiatan pariwisata. Pengusaha luar biasanya mempunyai
pengalaman serta sumber pendanaan yang lebih banyak. Seringkali dengan
pengalaman, pengetahuan serta kekuatan yang mereka miliki timbul kecenderungan
bahwa mereka akan mengatur kegiatan pariwisata dan dapat menekan orang lokal
atau menimbulkan kesan seolah-olah orang lokal hanya sebagai peran pembantu
saja. Hal ini akan berdampak tidak baik bagi kegiatan pariwisata itu sendiri
karena kegiatan pariwisata ini dapat dibenci dan tidak didukung orang
lokal. Diperlukan komunikasi yang baik dan pemerintah mempunyai peran besar
terhadap manajemen pariwisata di suatu kawasan lindung.
6. Kebocoran
Secara Ekonomi
Pajak dari
sektor pariwisata dapat “bocor” ke tempat atau daerah lain jika wisatawan lebih
memilih membeli barang ataupun memakai jasa-usaha yang dikelola oleh orang luar
(non lokal). Sebenarnya hal ini lumrah dan biasa terjadi di berbagai tempat
wisata dan kita juga tidak bisa menghindarinya. Hal yang perlu dipikirkan
kembali adalah membatasi kebocoran yang terjadi dengan pemberdayaan masyarakat
lokal. Untungnya, banyak wisatawan yang semakin sadar untuk membeli dan memakai
produk lokal jika mereka diberi kesempatan dengan catatan bahwa barang dan jasa
yang ditawarkan dapat bersaing dan bermutu bagus.
7. Perubahan
Budaya
Perubahan
budaya yang terjadi di masyarakat dapat bersifat positif dan negatif,
tergantung dari mana kita memandangnya. Bagaimanapun masyarakat biasanya tidak
mampu atau tidak diberi kesempatan untuk menentukan apakah mereka ingin berubah
atau tidak. Perubahan akan terjadi dengan begitu saja tanpa masyarakat
menyadarinya. Bagi para wisatawan, ada yang mengharapkan agar masyarakat tidak
berubah tetapi bagi sebagian wisatawan yang lain masyarakat merupakan target
perubahan untuk dipengaruhi. Dilihat dari masyarakat itu sendiri juga ada
beberapa perspektif. Ada masyarakat yang ingin menuju ke arah modernisasi, ada
masyarakat yang ingin mempertahankan gaya hidup serta budaya mereka tetapi ada
juga masyarakat yang tidak peduli dengan perubahan yang terjadi selama mereka
dapat hidup layak.
Contohnya di
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) :
Dampak positif yang ditimbulkan akibat
pengembanga pariwisata yaitu dalam bidang ekonomi, pariwisata dapat
mendatangkan pemasukan devisa. Dengan adanya perkembangan pariwisata juga dapat
menciptakan lapangan kerja baru yang berarti dapat mengurangi pengangguran.
Bagi masyarakat disekitar obyek wisata tentunya mengalami peningkatan standar
hidup dan kesejahteraan. Dampak positif lainnya yaitu pariwisata dapat
mengenalkan kepada generasi muda dan wisatawan asing tentang kebudayaan yang
ada di Indonesia. Pariwisata juga dapat menerangkan kepada anak cucu kita
mengenai sejarah budaya yang ada.
Selain dampak positif, perkembangan
pariwisata juga mempunya dampak negatif yaitu berupa gaya hidup masyarakat di
daerah penerima wisatawan. Gaya hidup yang dimaksud disini adalah sikap,
tingkah laku, maupun perilaku yang
diakibatkan adanya kontak langsung dengan wisatawan yang berlatar belakang
budaya yang berbeda dengan budaya kita. Hal ini dinilai sebagai hal negatif
karena masyarakat hanya meniru secara mentah apa yang ia lihat dan perhatikan
tanpa menyaring dan memilah dengan baik.
Dalam hal kebudayaan, segi negatif yang
muncul yaitu dengan terjadinya komersial budaya. Tempat suci, dijadikan sebagai
obyek wisata. Tari- tarian sakral dan adat istiadat diangkat dan dipergelarkan
secara umum untuk memuaskan kebutuhan para wisatawan. Dalam bidang lingkungan
yaitu terjadinya penebangan pohon yang digunakan untuk sarana pariwisata dan
pengrusakan ekosistem alam. Selain itu dampak negatif juga muncul dari
penyimpangan- penyimpangan social yang muncul saat terjadinya perkembangan
pariwisat, misalkan wisata seks, prilaku masyarakat, adanya limbah, dll. Hal
diatas juga terjadi dalam proses perkembangan pariwisata di D.I Yogyakarta.
Source :