Senin, 30 Maret 2015

Tugas Kepariwisataan 3


Kelebihan dan Kekurangan Kepariwisataan di Indonesia

Kelebihan :

1. Dapat menentukan lokasi yang diinginkan sendiri tanpa harus kompromi dengan kelompok.
2. Biaya lebih murah karena biasanya wisata individu jarang yang menggunakan pemandu wisata.
3. Tidak terikat oleh waktu. Jadi wisatawan individu dapat leluasa menikmati pariwisata tanpa di atur oleh biro perjalanan.
4. Bagi yang mengingkan ketenangan, wisata individu sangat berperan untuk menghilangan kejenuhan.
5. Apabila wisatawan telah memiliki rencana untuk mengunjungi banyak tempat wisata maka wisatawan dapat lebih memprioritaskan tempat wisata yang pertama ingin dikunjungi.
6. Tidak terlalu menggeluarkan biaya yang terlalu tinggi karena biasanya wisata grup diberikan potongan harga dari para biro perjalanan.
7. Lebih ramai dan tidak bosan karena bersama teman-teman.
8. Tidak takut tersesat karena berwisata tidak sendirian apalagi apabila menyewa pemandu wisata.
9. Jadwal waktu lebih tertata.
10. Bagi para wisatawan yang melakukan perjalanan menggunakan biro perlajalan biasanya hanya tinggal terima beres karena biasanya segala hal diurus oleh biro perjalanan.
11. Ada sebagian biro perjalanan yang memberikan asuransi untuk keselamatan para wisatawan.

Kekurangan :

1. Harus mencari lebih detail tentang tempat wisata yang ingin dikunjungi karena tidak menggunakan pemandu wisata.
2. Rasa khawatir akan tersesat tinggi.
3. Kurang menyenangkan karena harus melakukan perjalanan sendirian.
4. Kurang praktis karena  harus menggurus segala keperluan sendiri seperti dokumen-dokumen yang digunakan untuk melakukan pariwisata.
5. Harus mencari lebih detail tentang tempat wisata yang ingin dikunjungi karena tidak menggunakan pemandu wisata.
6. Rasa khawatir akan tersesat tinggi.
7. Kurang menyenangkan karena harus melakukan perjalanan sendirian.
8. Kurang praktis karena  harus menggurus segala keperluan sendiri seperti dokumen-dokumen yang digunakan untuk melakukan pariwisata.

Source :
http://aryani0194.blogspot.com/2013/06/softskill-4-analisis-kekurangan-dan.html

 

Cara Pengembangan

Menurut saya mungkin cara pengembangannya bisa dengan promosi dengan tiket-tiket murah untuk berlibur atau berpariwisata supaya masyarakat bisa lebih mengenal lagi tempat-tempat wisata dan bisa menikmati liburannya. Dalam konteks budaya mungkin kita perlu meningkatkan kebhineka tunggal ikaan kita dan harus tetap menjaga budaya kita dan tidak berpusat pada budaya-budaya barat.

Di bidang peninggalan benda-benda sejarah pun hendaknya dilakukan pendekatan , dalam arti kita tahu bagaimana cara memelihara berbagai peninggalan sejarah atau pun museum. Hal tersebut dilakukan tidak semata-mata hanya untuk memenuhi kewajiban pendidikan semata atau “kenikmatan” dan melainkan kita juga harus merubah pola berpikir kita agar bukan hanya sekedar kita tahu akan tetapi kita juga bisa membuat orang tertarik akan wisata yang dikunjunginya.

Pemerintah pun juga harus turut serta dalam pengaturan-pengaturan persediaan ruang yang dapat mencapai kesejahteraan masyarakat. Hal ini dapat meningkatkan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mewujudkan fungsi ruang dan mencegah dampak-dampak negative terhadap lingkungan dan keamanan, oleh karena itu dibutuhkan strategi-strategi khusus untuk mengembangkan kepariwisataan nasional. Penataan ruang merupakan suatu dasar pendekatan dalam mengembangkan wilayah yang bertujuan untuk mendukung komisi, ekonomi, sosial budaya dan lingkungan serta di dukung oleh sarana dan prasarana yang demi mendapatkan tujuan yang di inginkan pemerintah dan masyarakat.
Selain di dukung oleh penataan ruang dan sarana-sarana yang menunjang dalam kegiatan pengembangan kepariwisataan juga di dukung oleh beberapa sumber-sumber seperti sumber daya manusia, sumber keuangan dan sumber materi atau fisik. Oleh karena itu ketiganya harus benar-benar bisa tepenuhi, karena pengembangannya sangat berpengaruh besar bagi kepariwisataan nasional kita.

Sabtu, 21 Maret 2015

Tugas Kepariwisataan 2

Jenis atau Macam-macam Kepariwisataan

Berdasarkan Letak Geografis , kegiatan pariwisata berkembang
  • Pariwisata lokal adalah pariwisata setempat mempunyai ruang lingkup relatif sempit & terbatas , misal kota bandung.
  • Pariwisata regional adalah berkembang di suatu tempat atau daerah yang lebih luas dari lokal dan lebih sempit dari nasional , misalnya Bali & Sumatra Utara.
  • Kepariwisataan nasional adalah domestic tourism dan foreign tourism.
  • Regional-International Tourism adalah kegiatan kepariwisataan yang terbatas , tetapi melewati batas-batas yang lebih dari dua atau tiga negara. Misalnya kepariwisataan ASEAN, Timur Tengah , dll.
  • International Tourism adalah kegiatan kepariwisataan yang berkembang di seluruh negera di dunia
Berdasarkan pengaruh terhadap neraca pembayaran
  • In tourism adalah kegiatan kepariwisataan yang ditandai dengan gejala masuknya wisatawan asing ke suatu negara (memasukan devisa negara)
  • Outgoing tourism adalah kegiatan kepariwisataan yang ditandai dengan gejala keluarnya warga negara sendiri bepergian ke luar negeri sebagai wisatawan
Berdasarkan pembagian menurut objeknya
  • Cultural Tourism adalah motivasi orang-orang yang melakukan perjalanan disebabkan karena adanya faktor daya tarik dari seni budaya suatu tempat atau daerah.
  • Recuperational Tourism adalah orang orang yg bertujuan untuk menyembuhkan penyakit.
  • Commercial Tourism adalah wisata yang dikaitkan dengan kegiatan perdagangan nasional atau international , misal expo, fair, exebition.
  • Sport Tourism adalah perjalanan yang bertujuan untuk menyaksikan suatu pesta olah raga, misalnya world cup dan olimpiade.
  • Political Tourism adalah perjalanan yang bertujuan untuk menyaksikan suatu kejadian yang berhubungan dengan kegiatan suatu negara. Misalnya hari angkatan perang.
  • Social Tourism , dilihat dari segi penyelenggaraannya tidak menekankan untuk mencari keuntungan, misalnya study tour.
  • Regional Tourism adalah perjalanan untuk melihat upacara-upacara keagamaan, misalnya Ngaben.
 
Menurut Nyoman S. Pendit (1999: 42-48) memperinci penggolongan pariwisata menjadi beberapa jenis yaitu :
1) Wisata Budaya Merupakan perjalanan wisata atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan seseorang dengan mengadakan kunjungan atau peninjauan ke tempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat mereka.
2) Wisata Kesehatan Hal ini dimaksudkan dengan perjalanan seorang wisatawan dengan tujuan untuk menukar keadaan dan lingkungan tempat sehari-hari di mana ia tinggal demi kepentingan beristirahat baginya dalam arti jasmani dan rohani dengan mengunjungi tempat peristirahatan seperti mata air panas mengandung mineral yang dapat menyembuhkan, tempat yang memiliki iklim udara menyehatkan atau tempat yang memiliki fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya.
3) Wisata Olah Raga Wisatawan yang melakukan perjalanan dengan tujuan berolahraga atau. memang sengaja bermaksud mengambil bagian aktif dalam peserta olahraga disuatu tempat atau Negara seperti Asian Games, Olympiade, Thomas Cup, Uber Cup dan lain-lain. Bisa saja olahraga memancing, berburu, berenang
4) Wisata Komersial Dalam jenis ini termasuk perjalanan untuk mengunjungi pameranpameran dan pekan raya yang bersifat komersial, seperti pameran industri, pameran dagang dan sebagainya.
5) Wisata Industri Perjalanan yang dilakukan oleh rombongan pelajar atau mahasiswa, atau orang-orang awam ke suatu kompleks atau daerah perindustrian dimana terdapat pabrik-pabrik atau bengkel-bengkel besar dengan maksud tujuan untuk mengadakan peninjauan atau penelitian. Misalnya, rombongan pelajar yang mengunjungi industri tekstil.
6) Wisata Politik Perjalanan yang dilakukan untuk mengunjungi atau mengambil bagian aktif dalam peristiwa kegiatan politik. Misalnya, ulang tahun 17 Agustus di Jakarta, Perayaan 10 Oktober di Moskow, Penobatan Ratu Inggris, Perayaan Kemerdekaan, Kongres atau konvensi politik yang disertai dengan darmawisata.
7) Wisata Konvensi Perjalanan yang dilakukan untuk melakukan konvensi atau konferensi. Misalnya APEC, KTT non Blok.
8) Wisata Sosial Merupakan pengorganisasian suatu perjalanan murah serta mudah untuk memberi kesempatan kepada golongan masyarakat ekonomi lemah untuk mengadakan perjalanan seperti kaum buruh, pemuda, pelajar atau mahasiswa, petani dan sebagainya.
9) Wisata Pertanian Merupakan pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyek-proyek pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimananwisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi maupun melihat-lihat keliling sambil menikmati segarnya tanaman beraneka ragam warna dan suburnya pembibitan di tempat yang dikunjunginya.
10) Wisata Maritim (Marina) atau Bahari Wisata yang dikaitkan dengan kegiatan olah raga di air, lebih-lebih danau, bengawan, teluk atau laut. Seperti memancing, berlayar, menyelam, berselancar, balapan mendayung dan lainnya.
11) Wisata Cagar Alam Wisata ini biasanya diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan usaha-usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam, tanaman lindung, hutan daerah pegunungan dan sebagainya.
12) Wisata Buru Wisata untuk buru, ditempat atau hutan yang telah ditetapkan pemerintah Negara yang bersangkutan sebagai daerah perburuan, seperti di Baluran, Jawa Timur untuk menembak babi hutan atau banteng.
13) Wisata Pilgrim Jenis wisata ini dikaitkan dengan agama, sejarah, adat-istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat Ini banyak dilakukan oleh rombongan atau perorangan ketempat-tempat suci, ke makam-makam orang besar, bukit atau gunung yang dianggap keramat, tempat pemakaman tokoh atau pimpinan yang dianggap legenda. Contoh makam Bung Karno di Blitar, Makam Wali Songo, tempat ibadah seperti di Candi Borobudur, Pura Besakih di Bali, Sendang Sono di Jawa Tengah dan sebagainya.
14) Wisata Bulan Madu Suatu penyelenggaraan perjalanan bagi pasangan-pasangan, pengantin baru, yang sedang berbulan madu dengan fasilitas-fasilitas khusus dan tersendiri demi kenikmatan perjalanan dan kunjungan mereka. 


Menurut James J. Spillane (1994: 28-30) terdapat empat pendekatan didalam pariwisata yang muncul secara kronologis yakni : 
1) Pendekatan Advocasy Pendekatan ini mendukung pariwisata dan menekankan keuntungan ekonomis dari pariwisata. Potensi pariwisata bisa dipakai untuk mendukung macam-macam kegiatan ekonomis, menciptakan lapangan kerja baru, memperoleh devisa asing yang dibutuhkan bagi pembangunan dan masih banyak lagi.
2) Pendekatan Cautionary Pendekatan ini menekankan bahwa pariwisata banyak mengakibatkan banyak kerugian (disbenefits) dalam berbagai aspek sosial-ekonomi: seperti menimbulkan lapangan kerja musiman dan kasar (rendahan), mengakibatkan kebocoran devisa asing, menyebabkan komersialisasi budaya, serta menyebabkan berbagai macam konflik.
3) Pendekatan Adaptancy Pendekatan ini menyebutkan agar pengaruh negatif pariwisata dapat dikontrol dengan mencari bentuk lain perkembangan pariwisata dari yang selama ini sudah dikenal secara umum, atau dengan menyesuaikan pariwisata dengan Negara atau daerah tujuan wisata. Cara berpikir baru ini berdasarkan pandangan bahwa alam dan budaya dapat digabungkan dalam satu konteks
4) Pendekatan Developmental Pendekatan Developmental atau sering disebut pendekatan Alternative ini menganggap bahwa pariwisata dapat disesuaikan dengan keadaan masyarakat tuan rumah dan peka akan selera masyarakat tuan rumah tersebut Dapat dipercaya bahwa perkembangan tersebut sebetulnya mempengaruhi pilihan wisatawan terhadap daerah tujuan wisatanya dan demikian juga kehidupan mereka didaerah tujuan wisata atau bentuk alternative pariwisata ini mempengaruhi jurang pemisah antara hak dan kewajiban dari tamu, tuan rumah dan perantaranya.


Keuntungan dan Kerugian diadakan Kepariwisataan

Keuntungan :
1. Pendapatan Tetap
Pariwisata dapat mendatangkan pendapatan tetap yang efeknya dapat berantai. Salah satunya adalah terciptanya lapangan kerja untuk penduduk setempat. Selain itu, masyarakat masih bisa memperoleh pendapatan melalui pengeluaran oleh wisatawan misalnya cinderamata, makanan-minuman, penginapan, atau jasa pariwisata yang lain. Akan tetapi perlu diingat bahwa masyarakat tidak bisa sepenuhnya menggantungkan pendapatan mereka dari pariwisata. Pariwisata kondisinya sangat berfluktuatif tergantung dari banyak hal diantarnya kondisi ekonomi dan faktor keamanan serta kenyamanan. Banyak pekerjaan di sektor pariwisata juga merupakan pekerjaan paruh waktu ataupun musiman, misalnya pemandu wisata akan ada pekerjaan jika ada wisatawan. 

2. Peningkatan Pelayanan Untuk Masyarakat
Adanya sumber pendapatan yang diperoleh dari kegiatan pariwisata baik di dalam maupun luar kawasan lindung dapat memperbaiki dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Misalnya, masyarakat akan mampu mengakses pelayanan kesehatan maupun pendidikan dengan lebih baik. Selain itu penerapan pajak ataupun insentif dapat juga membantu proyek-proyek pembangunan di masyarakat. Pajak dapat diperoleh dari iuran masuk kawasan ataupun konsesi penggunaan kawasan. Proyek-proyek masyarakat dapat didanai dari kegiatan pariwisata berkelanjutan ini seperti mendanai program sekolah yang sedang berjalan ataupun pembangunan klinik kesehatan baru.

3. Penguatan dan Pertukaran Budaya
Interaksi dengan masyarakat lokal serta tradisi dan budayanya merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi wisatawan, inilah salah satu alasan mereka berwisata. Begitupun sebaliknya bagi masyarakat lokal, dapat membangun rasa percaya diri serta bangga terhadap kebudayaan mereka karena tradisi dan budayanya disukai oleh wisatawan. Peran dan interkasi masyarakat lokal terhadap wisata dan wisatawan merupakan nilai tambah bagi pariwisata. Namun, kesuksesan dari proses interaktif ini tergantung kepada masyarakat lokal juga, bagaimana mereka mengolah proses serta situasi yang ada. Kemahiran berbahasa (untuk wisatawan asing) serta keramahan dan kehangatan sikap masyarakat lokal menjadi hal penting untuk upaya ini. 

4. Kesadaran Masyarakat Terhadap Konservasi
Sudah menjadi hal umum jika kita biasanya kurang mensyukuri dan manghargai lingkungan sekitar kita. Hal ini dapat disebabkan karena tiap saat kita hidup didalamnya sehingga kurang bisa melihat keindahan, keunikan dan nikmat yang ada. Meskipun pada dasarnya kita dapat memahami kerumitan alam dan peran sumber daya yang ada di sekitar kita. Ketika orang luar datang dan mengagumi lingkungan, budaya serta tradisi kita maka akan timbul rasa bangga pada apa yang kita miliki dan biasanya akan diikuti dengan upaya konservasi. Banyak dari kita kemudian berusaha untuk melindungi daerah kita serta mengubah pola hidup yang dapat merusak lingkungan, misalnya kita akan menjaga kebersihan lingkungan, mengelola kualitas air serta mempelajari budaya dan tradisi kita.


Kerugian :
 1. Rusaknya Lingkungan
Berasal dari jumlah dan perilaku wisatawan yang dapat mengganggu dan merusak kondisi lingkungan setempat. Berkaitan erat dengan daya dukung lingkungan dan dapat dikontrol dengan pemberlakuan manajemen pariwisata yang baik dengan menerapkan batasan perubahan yang dapat diterima. Proses yang dipakai adalah adaptif aktif. Selalu dapat melihat setiap perubahan yang terjadi dengan menetapkan kriteria serta indikator yang disesuaikan dengan tujuan paradigma pariwisata yang dibangun.

2. Ketidakstabilan Ekonomi
Hal ini membuat masyarakat rentan terhadap kondisi pariwisata yang fluktuatif. Sebagai konsekuensinya, wisatawan dan masyarakat lokal dapat membayar harga yang lebih tinggi untuk mendapatkan pelayanan, makanan-minuman, bahan bakar, penginapan dll.

3. Kepadatan dan Kenyamanan
Terlalu banyaknya wisatawan akan mengganggu kenyamanan wisatawan itu sendiri dan juga masyarakat yang hidup di daerah tersebut, terutama jika hal ini terjadi di kawasan lindung. 

4. Pembangunan Berlebih
Pembangunan pariwisata jika tidak dikontrol dengan baik dapat mengganggu kenyamanan dan merusak lingkungan. Pembangunan dalam hal ini bisa dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu pembangunan yang terencana dan pembangunan yang tidak terencana. Pembangunan terencana misalnya resort, hotel, dermaga, akses jalan dan fasilitas pendukung wisata lainnya. Mereka sudah menempati ruang dan jumlah tertentu. Pembangunan yang tidak terencana misalnya rumah-rumah pekerja industri wisata. Pembangunan tidak terencana biasanya disebabkan oleh masyakarat yang mencari pekerjaan di sektor wisata. Pembangunan ini seringkali sewenang-wenang, tidak memperhatikan sanitasi dan kebersihan lingkungan
Sehingga kerap muncul gubuk-gubuk kumuh dan liar di sekitar lokasi wisata. 

5. Pengaturan Dari Pihak Luar Yang Berlebihan
Meskipun hal ini terlihat sebagai penilaian subjektif tapi hal ini juga telah menjadi pusat perhatian para pemerhati kegiatan pariwisata. Pengusaha luar biasanya mempunyai pengalaman serta sumber pendanaan yang lebih banyak. Seringkali dengan pengalaman, pengetahuan serta kekuatan yang mereka miliki timbul kecenderungan bahwa mereka akan mengatur kegiatan pariwisata dan dapat menekan orang lokal atau menimbulkan kesan seolah-olah orang lokal hanya sebagai peran pembantu saja. Hal ini akan berdampak tidak baik bagi kegiatan pariwisata itu sendiri karena kegiatan pariwisata ini dapat  dibenci dan tidak didukung orang lokal. Diperlukan komunikasi yang baik dan pemerintah mempunyai peran besar terhadap manajemen pariwisata di suatu kawasan lindung.

6. Kebocoran Secara Ekonomi
Pajak dari sektor pariwisata dapat “bocor” ke tempat atau daerah lain jika wisatawan lebih memilih membeli barang ataupun memakai jasa-usaha yang dikelola oleh orang luar (non lokal). Sebenarnya hal ini lumrah dan biasa terjadi di berbagai tempat wisata dan kita juga tidak bisa menghindarinya. Hal yang perlu dipikirkan kembali adalah membatasi kebocoran yang terjadi dengan pemberdayaan masyarakat lokal. Untungnya, banyak wisatawan yang semakin sadar untuk membeli dan memakai produk lokal jika mereka diberi kesempatan dengan catatan bahwa barang dan jasa yang ditawarkan dapat bersaing dan bermutu bagus.

7. Perubahan Budaya
Perubahan budaya yang terjadi di masyarakat dapat bersifat positif dan negatif, tergantung dari mana kita memandangnya. Bagaimanapun masyarakat biasanya tidak mampu atau tidak diberi kesempatan untuk menentukan apakah mereka ingin berubah atau tidak. Perubahan akan terjadi dengan begitu saja tanpa masyarakat menyadarinya. Bagi para wisatawan, ada yang mengharapkan agar masyarakat tidak berubah tetapi bagi sebagian wisatawan yang lain masyarakat merupakan target perubahan untuk dipengaruhi. Dilihat dari masyarakat itu sendiri juga ada beberapa perspektif. Ada masyarakat yang ingin menuju ke arah modernisasi, ada masyarakat yang ingin mempertahankan gaya hidup serta budaya mereka tetapi ada juga masyarakat yang tidak peduli dengan perubahan yang terjadi selama mereka dapat hidup layak.

Contohnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) :

Dampak positif yang ditimbulkan akibat pengembanga pariwisata yaitu dalam bidang ekonomi, pariwisata dapat mendatangkan pemasukan devisa. Dengan adanya perkembangan pariwisata juga dapat menciptakan lapangan kerja baru yang berarti dapat mengurangi pengangguran. Bagi masyarakat disekitar obyek wisata tentunya mengalami peningkatan standar hidup dan kesejahteraan. Dampak positif lainnya yaitu pariwisata dapat mengenalkan kepada generasi muda dan wisatawan asing tentang kebudayaan yang ada di Indonesia. Pariwisata juga dapat menerangkan kepada anak cucu kita mengenai sejarah budaya yang ada.
Selain dampak positif, perkembangan pariwisata juga mempunya dampak negatif yaitu berupa gaya hidup masyarakat di daerah penerima wisatawan. Gaya hidup yang dimaksud disini adalah sikap, tingkah laku, maupun  perilaku yang diakibatkan adanya kontak langsung dengan wisatawan yang berlatar belakang budaya yang berbeda dengan budaya kita. Hal ini dinilai sebagai hal negatif karena masyarakat hanya meniru secara mentah apa yang ia lihat dan perhatikan tanpa menyaring dan memilah dengan baik.
Dalam hal kebudayaan, segi negatif yang muncul yaitu dengan terjadinya komersial budaya. Tempat suci, dijadikan sebagai obyek wisata. Tari- tarian sakral dan adat istiadat diangkat dan dipergelarkan secara umum untuk memuaskan kebutuhan para wisatawan. Dalam bidang lingkungan yaitu terjadinya penebangan pohon yang digunakan untuk sarana pariwisata dan pengrusakan ekosistem alam. Selain itu dampak negatif juga muncul dari penyimpangan- penyimpangan social yang muncul saat terjadinya perkembangan pariwisat, misalkan wisata seks, prilaku masyarakat, adanya limbah, dll. Hal diatas juga terjadi dalam proses perkembangan pariwisata di D.I Yogyakarta.

Source :